Mamuju (ANTARA News) - Ketua Kamar Dagang Indonesia Daerah Provinsi Sulawesi Barat Harry Warganega berharap, pemerintah daerah terus mendorong kegiatan usaha tenun sutera Mandar untuk dikembangkan karena potensinya sangat besar untuk meningkatkan ekonomi rakyat di daerah ini.

"JIka kita cermati dari berbagai jenis usaha ada, maka kami menyimpilkan usaha yang paling strategis untuk terus dikembangkan adalah usaha tenun sutera Mandar yang juga banyak digandrungi kalangan perempuan Mandar untuk membantu menopang perekonomian mereka," kata Harri Warganegara di Mamuju, Rabu.

Menurut dia, tenun sutera Mandar jika dikembangkan secara profesional, maka bukan tidak mungkin hasil karya putri-putri Sulbar akan menembus pasar internasional yang saat ini telah banyak dilirik oleh mancanegara seperti negara Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam dan beberapa negara asia lainnya.

"Sarung sutera Mandar yang dikembangkan para perempuan di Tanah Mandar sejak dahulu kala. Namun, usaha ini belum berkembang bagus karena belum tertangani secara maksimal," katanya.

Ia mengatakan, usaha sarung sutera Mandar ini butuh "bapak angkat" yang harus menangani segala kebutuhan para penenun baik dari segi pemberian modal usaha maupun peluang pasar.

Dikatakannya, salah satu kawasan yang banyak mengembangkan tenun sutera Mandar terdapat di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Polewali Mandar seperti Kecamatan Tinambung, Balanipa dan sebahagian di kecamatan yang ada di kabupaten lainnya.

Saat ini, kata dia, penenun sutera Mandar masih menggunakan pola tradisional yang rata-rata masyarakatnya seperti di Desa Pambusuang, membuat tenunan sutera Mandar di rumah mereka masing-masing.

"Semua pengerjaan tenun sutera Mandar dilakukan dengan cara tradisionil, tidak menggunakan mesin, dan hanya menggunakan tangan. Proses pengerjaan setiap satu buah sarung dikerjakan kurang lebih sepekan dengan ukuran sarung sekitar tiga meter," katanya.

Harri mengatakan, harga sarung sutera Mandar di pasar lokal, regional dan nasional sekitar Rp200 ribu sampai Rp300 ribu per kain.

Walau dengan alat yang tradisonal, kata dia, para penenun sutera tersebut dapat menghasilkan sutera tenun yang sangat bagus.

"Para penenun sutera tidak terpengaruh dengan menggunakan alat moderen, namun penenun tetap mempertahankan cara-cara tradisional," kata Harri yang juga Ketua BUMD Sulbar.
  (T.KR-ACO/A035) 


Editor: Daniel
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasulsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar