Jumat, 23 Juni 2017

Menkes perintahkan BPOM sidak peredaran obat keras

id menteri kesehatan nila djuwita f moeloek, bpom, obat, puskesmas kassi-kassi
Menkes perintahkan BPOM sidak peredaran obat keras
Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek (kanan) berdialog dengan pasien saat berkunjung di ruang perawatan Puskesmas Kassi-Kassi, Makassar, Rabu (11/3) (ANTARA FOTO/Darwin Fatir)
"Kalau ada peredarannya, kami diberitahu, nanti Badan POM harus turun tidak boleh tidak...
Makassar (ANTARA Sulsel) - Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek memerintahkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk turun melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) peredaran obat keras dikenal obat G atau Gevaarlijk yang dijual bebas di sejumlah apotik.

"Kalau ada peredarannya, kami diberitahu, nanti Badan POM harus turun tidak boleh tidak, dan apotiknya harus ditutup," tegas Nila usai mengunjungi Puskesmas Kassi-Kassi di Makassar, Rabu.

Menurut dia penyalahgunaan obat keras atau biasa disebut parkinson untuk syaraf digunakan sebagaian orang untuk mabuk padahal tujuannya untuk penenang bagi pasien syaraf.

Ia kembali menegaskan, tidak boleh sembarang apotik menjual bebas obat tersebut kepada masyarakat yang tidak mempunyai resap, sebab penjualan daftar obat keras diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan.

"Tugas dari Balai POM sebagai pengawas pelayanan dan peredaran obat. Khusus obat keras biasanya itu harus melalui resep dokter dan tidak bisa disalahgunakan," kata pengajar doktor pascasarjana Univerisitas Indonesia itu.

Sekertaris Jenderal Kementerian Kesehatan Untung Suseno Sutarjo menambahkan, bila mana ada apotik yang menjual obat keras bebas di pasaran tanpa resep dokter maka apotiknya langsung ditutup.

"Apotiknya ditutup dan bisa jadi surat izin menjual obat bisa dicabut. Yang bisa mencabut itu balai POM" tambahnya.

Perlu diketahi obat daftar G, artinya berbahaya. G singkatan dari Gevaarlijk berasal dari bahasa Belanda artinya berbahaya. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 02396/A/SK/VIII/1989 dinyatakan obat daftar G adalah obat keras.

Karena obat tersebut ditandai dengan logo lingkaran merah bertulisan K ditengahnya, baik pada kotak ataupun bungkus luarnya dan nama pembuat disebutkan serta boleh diserahkan kepada pasien yang mempunyai resep dokter.

Sebelumnya, sejumlah apotik di Makassar, Sulawesi Selatan ditengarai memperjualbelikan obat G tersebut secara bebas. Bahkan anak di bawah umur bisa memdapatkan di apotik tertentu. Larisnya penjualan obat tersebut membuat sejumlah apotik memasang tarif harga obat G itu.

Ketua Komisi D DPRD Kota Makassar, Mudzakkir Ali Djamil pada kesempatan berbeda menyatakan banyaknya pengaduan masyarakat terkait peredaran obat keras tersebut di kalangan remaja.

"Untuk itu kami mendesak agar balai POM segera turun melakukan investigasi dan mencabut izin apotik yang menjual obat G, karena berbahaya bagi anak-anak remaja yang rata-rata mengkonsumsinya sehingga kesadaran mereka hilang bahkan mereka akhirnya melakukan tindakan kriminal," katanya. IK Sutika

Editor: Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Baca Juga