Kamis, 30 Maret 2017

Sekolah terpencil di Sidrap "berdayakan" buku bekas

id buku bekas, sdn 1 alukkan, sidrap
Sekolah terpencil di Sidrap
Ilustrasi-Petugas Perpustakaan Keliling merapikan buku bekas yang diberikan siswa baru saat mengikuti MOS di Lapangan Karebosi, Makassar (ANTARA FOTO/Darwin Fatir)
"Rata-rata di sini siswanya dari masyarakat kelas bawah, dengan cara memberdayakan buka bekas...
Makassar (ANTARA Sulsel) - Sekolah Dasar Negeri I Alukkan terletak di Desa Allakuang, Kecamatan Maritengnge, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, "memberdayakan" buku bekas untuk meningkatkan minat baca siswanya.

"Rata-rata di sini siswanya dari masyarakat kelas bawah, dengan cara memberdayakan buka bekas untuk menumbuhkan minat baca di sekolah yang menghasilkan dampak luar biasa," kata Kepala Sekolah SDN I Allaukang Basri, Rabu.

Dia menyebutkan, salah satu siswa bernama Aisyah, siswa kelas enam di sekolah itu telah membaca buku lebih dari 130 buku bacaan selama kurun waktu enam bulan.

Tidak hanya Aisyah, hampir semua siswa membaca puluhan buku dalam kurun waktu beberapa bulan saja. Seperti Wiwi dan Ira, mereka Siswa kelas tinggi ini rata-rata menghabiskan bacaan 3 sampai 4 buku perminggu.

Buku di sekolah ini sangat terbatas. Sebagian buku berbentuk cerita, bahkan banyak yang cetakannya tidak bagus dengan kondisi perwajahan buku "lay out" seadanya.

"Dengan segala keterbatasan jumlah buku, siswa tetap mau membaca. Bahkan buku-buku yang perwajahan buku tidak menarik itu pun `dilalap` habis dibaca," tutur Basri.

Kepala sekolah itu juga menceritakan bahwa akan segera ada bantuan buku dari Dinas Pendidikan dalam bentuk hibah.

Sementara Gary, guru kelas 5 di sekolah itu menuturkan bila dilihat kondisi orang tua siswa dengan keterbatasan. Namun minat baca anak-anak mereka sangat luar biasa ingin mengetahui ilmu dengan membaca buku.

"Padahal kalau kita datang ke rumah orang tua mereka, seakan tidak percaya, mereka cuma buruh ternak, buruh tani, tukang batu dan sebagainya yang tak punya banyak fasilitas mendukung anak menyukai buku," tuturnya.

Dia menyebut strategi agar siswa membaca banyak buku di tengah banyak keterbatasan. Setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis, siswa kelas tiga, empat, lima dan enam diajak membaca mandiri tanpa bersuara (senyap) selama 15 menit.

Buku yang dipilih apa saja yang disukai siswa. "Agar senang membaca, pada jam yang sama, siswa kelas satu dan dua diajak membaca terbimbing dengan menggunakan buku-buku hibah yang perwajahannya sangat menarik dari USAID Prioritas," katanya.

Setelah siswa selesai membaca selama 15 menit, mereka diminta merangkum selama lima menit dan rangkuman kecilnya diletakkan di kotak baca, masing masing berdasarkan namanya. Kedua, buku tersebut boleh dibawa pulang untuk diselesaikan membacanya di rumah.

"Jadi biasa siswa selesaikan di rumah. Siswa seringkali menghabiskan satu buku selama satu hari dan kami tidak pernah memaksa untuk itu," kata Gary.

Selanjutnya, bila hari Sabtu, hampir satu jam waktu digunakan untuk membaca, merangkum dan lomba menceritakan isi buku. Lomba ini diadakan per kelas dan dilaksanakan di luar kelas.

Masing-masing perwakilan kelas, yang terpilih berdasarkan kemampuan bercerita di hadapan teman-temannya.

Mereka akan dinilai guru kelas, maju ke panggung sekolah untuk menceritakan kembali. Satu kelas bisa dua, sampai tiga wakil dan yang dipilih yang paling baik dalam bercerita.

"Juaranya akan diberikan hadiah uang pembinaan dan piala kepala sekolah," kata dia.

Editor: Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga