Film Inspiratif "Lion" Diharapkan Ramaikan F8 Makassar

id walikota makassar, film lion, f8
Film Inspiratif
Konjen Australia Richard Mathews (kiri), Walikota Makassar Moh Ramdhan Pomanto (dua kiri), penulis buku Saroo Brierley pada Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2017 di Makassar, Minggu (29/1). (ANTARA FOTO/Muh Hasanuddin)
"Ini adalah kisah yang sangat inspiratif, mengisahkan perjuangan `anak lorong...
Makassar (Antara Sulsel) - Wali kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto terkesan dengan film "Lion" yang diangkat dari kisah nyata Saroo Brierley dan berharap film itu bisa meramaikan Makassar International Eight Festival and Forum yang populer dengan Makassar F8.

"Ini adalah kisah yang sangat inspiratif, mengisahkan perjuangan `anak lorong` yang memiliki keinginan keras dan tidak pernah menyerah hingga berhasil mencapai tujuan, menemukan rumah asalnya," ujarnya di Makassar, Minggu.

Danny -- sapaan akrab Ramdhan Pomanto mengatakan, film yang diputar pada Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2017 yang diselenggarakan Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di XXI di Trans Studio Makassar itu mengangkat kisah anak lorong yang sangat menginspirasi.

Ia menyatakan jika film-film inspiratif seperti lion itu bisa ambil bagian dalam kegiatan F8 Makassar yang direncanakan akan digelar pada 6-10 September 2017.

Bagi Danny, hal ini merupakan kebanggaan besar bagi Makassar. Film Lion yang dibintangi Dev Patel, Rooney Mara, dan Nocole Kidman ini merupakan film berkelas internasional.

"Tahun lalu juga di kegiatan F8 ada banyak film-film pendek yang inspiratif dan semoga nanti ini juga bisa masuk di F8. Film-film yang kita masukkan itu memang yang inspiratif dan ini cocok kayaknya," katanya.

Pada nonton bareng itu, Saroo Brierley (36), sebagai penulis buku yang mengangkat kisah nyata kehidupannya turut hadir dalam pemutaran film tersebut.

Dia setuju disebut anak lorong karena memang masa kecilnya tinggal di lorong-lorong pemukiman di sebuah desa kecil di India Utara. Ia pun menggelar sesi tanya jawab sekaitan film yang diadopsi dari buku yang ditulisnya, A Long Way Home.

Film ini menceritakan kisah Saroo kecil, ketika ia lima tahun dan tersesat di Kalkuta, ribuan kilometer dari rumahnya. Dia melewati berbagai tantangan sebelum diadopsi oleh satu pasangan Australia.

Dua puluh lima tahun berlalu, dia pun mencoba mencari keluarganya yang hilang dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi di zaman sekarang seperti Google Earth.

Sementara itu, Konsulat Jenderal Australia di Makassar, Richard Mathews menyampaikan terima kasihnya atas pemutaran FSAI ini, apalagi ini adalah yang pertama kalinya dilakukan di Makassar.

"Kebetulan ini baru pertama kali kita lakukan di Makassar. Melalui film ini kita mencoba mencari tempat hubungan perfilman Australia - Indonesia sekaligus mencontohkan kreatifitas perfilman di kedua negeri kita," ucapnya.

Editor: Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga