Rabu, 29 Maret 2017

KPPU Sidak Peternak Unggas Di Maros

id kppu, sidak peternak unggas, maros
KPPU Sidak Peternak Unggas Di Maros
Ketua KPPU Syarkawi Rauf (kiri) berdialog dengan pedagang saat melakukan sidak harga ayam potong di pasar tradisional Mandai, Maros, Sulawesi Selatan, Kamis (9/2). (ANTARA FOTO/Dewi Fajriani)
"Beberapa hari lalu itu kami baru dari Bogor, Jawa Barat juga melakukan hal sama seperti ini...
Maros (Antara Sulsel) - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama sejumlah legislator Komisi VI DPR RI melakukan inspeksi mendadak ke peternak unggas di Kabupaten Maros dan selanjutnya membandingkan harga ayam di pasar tradisional.

Ketua KPPU RI Syarkawi Rauf di Maros, Kamis, mengatakan, sidak yang dilakukannya adalah bagian dari proses pendalaman untuk memantau harga-harga ternak unggas di beberapa provinsi di Indonesia.

"Beberapa hari lalu itu kami baru dari Bogor, Jawa Barat juga melakukan hal sama seperti ini dengan mengunjungi langsung peternak unggasnya, mendatangi kandangnya dan kemudian ke pasar," ujarnya.

Disebutkannya, di beberapa daerah di Indonesia, ditemukan adanya disparitas harga yang sangat tinggi antara harga unggas seperti ayam dotong di tingkat peternak dan di pasaran.

Di Bogor, harga ayam sebelum ke pasar atau di tingkat peternak itu harganya sekitar Rp12 ribu per kilogramnya, sedangkan setelah sampai di pedagang pasar harga sudah naik lebih dari dua kali lipat atau sekitar Rp35 ribu dalam bentuk karkas (sudah dipotong).

Menurut dia, adanya disparitas harga yang sangat tinggi dua kali lipat lebih tinggi ini kemudian mendorong pihaknya bersama anggota Komisi VI DPR melakukan penelusuran dugaan adanya permainan harga tersebut.

"Ini yang sedang kita telusuri kenapa ada hal seperti ini, terjadi disparitas harga yang tinggi antara harga di tingkat peternak dengan harga di tingkat penjual," katanya.

Sementaraitu, Legislator Komisi VI DPR Eka Sastra yang mendampingi Syarkawi Rauf melakukan sidak di beberapa daerah di Indonesia juga mengaku jika sebagian peternak di Sulawesi Selatan itu terlindungi oleh adanya pola kemitraan yang tepat dengan para integrator.

"Kalau di Sulsel ini sedikit lebih berhati-hati para peternaknya karena mereka membuat perjanjian dengan perusahaan atau integrator sebelum memelihara ayamnya itu. Peternak sudah menandatangani perjanjian termasuk harganya, sehingga tidak mempengaruhi nilai jual di pasaran, apakah sedang mengalami kenaikan harga atau mengalami penurunan harga," jelasnya.

Editor: Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga