Rabu, 26 April 2017

Pj Gubernur: Sulawesi Butuh Percepatan Pembangunan Infrastruktur

id gubernur sulbar, carlo brix tewu, kereta api
Pj Gubernur: Sulawesi Butuh Percepatan Pembangunan Infrastruktur
Penjabat Gubernur Sulbar Carlo Brix Tewu (FOTO/Humas Pemprov Sulbar)
"Sejak tahun 2014, telah dilaksanakan groundbreaking dan telah memasuki tahap pelaksanaan konstruksi badan jalur kereta api...
Mamuju (Antara Sulbar) - Penjabat Gubernur Sulawesi Barat, Irjen Pol Carlo Brix Tewu, mengemukakan, wilayah Sulawesi perlu percepatan pembangunan infrastruktur dalam rangka mendukung konektivitas antarwilayah regional Sulawesi melalui Pembangunan Rel Kereta Api Trans Sulawesi yang telah dimulai melalui Trase Makassar-Pare-pare.

"Sejak tahun 2014, telah dilaksanakan groundbreaking dan telah memasuki tahap pelaksanaan konstruksi badan jalur kereta api sepanjang 30 km di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Ini yang harus didorong untuk terus ditingkatkan," kata Carlo B Tewu di Mamuju, Kamis.

Selain pembangunan rel kereta api Sulawesi, pembangunan jalan dan jembatan antarprovinsi juga merupakan hal yang perlu ditingkatkan dalam rangka mendukung konektivitas antar wiilayah.

Salah satunya, adalah ruas Salubatu-Mambi-Malabo-Mamasa-Toraja Utara (Batas Sulsel) yang ada di Provinsi Sulbar dan merupakan wilayah pengembangan strategis dari Mamuju-Makale-Palopo-Kendari-Bau-bau-Wangi-Wangi sepanjang 124,71 km dengan kondisi jalan saat ini kurang lebih 38 persen dalam kondisi mantap dan tidak mantap kurang lebih 62 persen.

"Ruas jalan ini merupakan penghubung antara kabupaten dan antarprovinsi yang merupakan sentra-sentra produksi pertanian dan perkebunan serta menghubungkan Kabupaten Mamasa sebagai destinasi pariwisata di Sulawesi Barat dengan Kawasan Strategis Nasional Tana Toraja,"kata Carlo.

Carlo mengemukakan, Provinsi Sulbar sebagai provinsi termuda di Sulawesi memiliki kekayaan alam serta potensi yang sangat melimpah, beberapa potensi unggulan yang yang ada di Sulbar antara lain, kakao dengan luas areal sebesar 15,69 ribu hektare dimana produksi sebesar 83,56 ton.

Hal itu kata dia, tentunya akan terus dioptimalkan melalui program kakao berkelanjutan dari pemerintah pusat. Selain itu, juga terdapat komoditas sawit dengan luas areal sebesar 61,2 ribu hektare dengan produksi sebesar 797,7 ribu ton pada tahun 2015.

Carlo juga menyampaikan, dalam upaya untuk semakin meningkatkan kinerja pembangunan di Sulbar, pemerintah saat ini telah mengupayakan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)Belang-belang Mamuju dengan luas kawasan sekitar 1.255 hektare. KEK Belang-belang nantinya akan terintegrasi dengan berbagai fasilitas infrastruktur pendukung lainnya seperti PLTU dengan kapasitas 50 MW, Bandara, Pelabuhan Belang-belang, Pelabuhan Perikanan Nusantara Palipi, Jalan Trans Sulawesi, serta rencana jaringan kereta api Sulawesi yang akan melalui KEK Belang-belang.

Pengembangan KEK diharapkan segera dapat terealisasi dan masuk dalam agenda penetapan Kawasan Ekonomi Khusus nasional sehingga nantinya keberhasilan dalam pengembangan KEK secara riil akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui percepatan investasi dan optimalisasi industri yang pada gilirannya dapat memperluas lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Berdasar hal tersebut, diharapkan Pemerintah Pusat memberikan perhatian lebih untuk pembangunan Sulawesi, mengingat potensi dan capaian pembangunan Pulau Sulawesi yang cukup menggembirakan beberapa tahun terakhir, sehingga kesenjangan wilayah antara wilayah barat dan wilayah timur Indonesia semakin berkurang dan pemerataan pembangunan di segala sektor semakin terasa.

Editor: Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga