Jumat, 21 Juli 2017

Sejarawan: Sejarah Pattimura Bisa Dikaji Ulang

id pattimura, thomas matulessy
Ambon (Antara Sulsel) - Sejarawan Wim Manuhutu dari Vrij Universiteit Amsterdam, Belanda menyatakan sejarah asal-usul Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura masih bisa dikaji ulang dari sumber-sumber lisan di masyarakat.

Pengkajian kebenaran sejarah melalui tradisi lisan yang hidup di masyarakat tersebut, dapat disatukan sebagai referensi penelitian sejarah dengan dokumen-dokumen tertulis yang berasal dari laporan-laporan Vereenidge Oostindische Compagnie (VOC) dua abad lalu.

"Saya yakin bahwa dalam laporan-laporan Hindia-Belanda, dan cukup banyak laporannya tentang Pattimura belum tentu itulah kebenaran, tapi tidak salah jika kita pakai sebagai titik referensi bilamana mencari tradisi lisan atau mencari sumber-sumber informasi yang lain," kata Wim Manuhutu usai berceramah di "Diskusi Perang Pattimura: Sejarah, Warisan dan Intepretasi", Rabu.

Ia mengatakan pengkajian ulang dengan menitikberatkan pada sumber-sumber tradisi lisan itu, guna menghindari lebih banyak klaim dan pertentangan tentang asal-usul Pattimura yang masih terjadi dalam masyarakat Maluku.

Meski tidak mudah, tetapi melalui penelitian itu bisa memungkinkan adanya kaitan dan kesamaan ataupun tidak antara tradisi lisan yang dalam budaya orang Maluku dikenal dengan Kapata, dengan dokumen-dokumen atau catatan sejarah tertulis.

Wim memisalkan tentara rakyat pada perang Saparua yang dibuang ke Pulau Jawa untuk dijadikan budak oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Nama-nama yang disebutkan dalam laporan pengiriman tentara rakyat itu masih bisa dicari kebenarannya dalam Kapata di mata rumah atau keturunan orang-orang tersebut.

Tapi penelitian-penelitian dengan metode demikian, kata dia, masih belum dilakukan secara masif.

Karena itu, peringatan Hari Pattimura ke-200 tahun dapat dijadikan sebagai momentum untuk melakukan pengkajian guna meningkatkan upaya pengungkapan sejarah lebih lanjut.

"Kita harus berusaha sekeras-kerasnya untuk mengumpulkan data yang ada dan mencoba apakah masih mungkin untuk mengkoreksi atau menambah sumber-sumber yang sudah ada. Misalnya, masih mungkin untuk mencari tahu apakah masih ada mata rumah ataukah keluarga yang punya cerita moyangnya ditangkap dan dibuang ke luar Maluku," ujarnya.

Menurut Wim, pengakuan Thomas Matulessy sebagai pahlawan dalam buku-buku sejarah di Belanda belum begitu diperhatikan, kendati pada umumnya masyarakat di sana mengakui bahwa penjajahan Hindia-Belanda di Indonesia, khususnya Maluku adalah lembaran-lembaran kelam sejarah peradaban mereka.

Pembantaian terhadap rakyat, salah satunya adalah pembantaian massal masyarakat Banda pada 1621, dianggap sebagai genosida yang tidak bisa dimaafkan.

Karena tindakan-tindakan kejam kolonialisme Belanda lah yang telah menyebabkan munculnya berbagai perang perlawanan di Indonesia, contohnya perang Pattimura dan perang Diponegoro yang timbul karena ketidaksetujuan masyarakat terdapat pemerintah pada masa itu.

"Sekarang ini pada umumnya di Belanda ada gerakan yang ingin mendesak pemerintah setempat untuk mengakui bahwa bukan hanya kejayaan kolonialisme yang dirayakan, tapi juga pengakuan terhadap perlawanan rakyat Indonesia pada masa itu," katanya.

Dikatakannya lagi, dalam studinya mengenai sejarah kolonialisme di Maluku, tidak semua rakyat menerima begitu saja kedatangan bangsa penjajah. Hal itu dapat dilihat dari catatan perlawanan rakyat, seperti di Jazirah Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Pemberontakan secara bergerilya di gunung dan hutan yang dipimpin oleh sejumlah kapitan-kapitan, tidak hanya Pattimura, tapi juga lainnya, seperti Kakialy dan Tulukabessy menunjukan semangat perlawanan orang-orang Maluku terhadap penjajah.

"Nama Thomas Matulessy maupun mengakui dia sebagai pahlawan belum begitu dikenal dalam pendidikan sejarah Maluku di Belanda, ini satu hal yang juga masih harus diperjuangkan oleh masyarakat Maluku yang berkediaman di Belanda," tandasnya.            

Editor: Laode Masrafi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga