Sabtu, 23 September 2017

Ekonomi Syariah Pilar Menuju Kesejahteraan Bangsa

id ekonomi syariah, fesyar kti, pilar kesejahteraan bangsa
Ekonomi Syariah Pilar Menuju Kesejahteraan Bangsa
Pengunjung mencari informasi di salah satu stan pameran Festival Ekonomi Syariah (FESyar) di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (25/8). (ANTARA FOTO/Dewi Fajiari)
Makassar (Antara Sulsel) - Ketika Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut Agama Islam masih sibuk membahas penting tidaknya menerapkan ekonomi syariah dalam berbagai lini kehidupan, negara lain termasuk yang mayoritas penduduknya nonmuslim justeru sudah menerapkan ekonomi syariah.

Kondisi itu setidaknya telah menjadikan Indonesia tertinggal jauh dibanding negara lainnya seperti Malaysia, Arab Saudi, Dubai, Emirat dan sejumlah negara nonmuslim seperti Thailand, Korea, Jepang dan sejumlah negara di Eropa sudah menggarap wisata halal, makanan halal dan sebagainya untuk mengimplementasikan ekonomi syariah.

"Indonesia sudah tertinggal jauh, kita lihat bagaimana negara-negara nonmuslim pun sudah lebih jauh menggarap halal food, halal economy, halal tourism seperti di Korea dan negara-negara Eropa," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada pembukaan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) di Makassar pada Jumat (25/8).

Menjawab ketertinggalan tersebut, lanjut dia, FESyiar pun hadir sebagai wujud keterpanggilan untuk bersama-sama mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Hal ini untuk mengejar ketertinggalan sekaligus memakmurkan masyarakat muslim dan perekonomian Indonesia. Diakui, ekonomi dan keuangan syarian merupakan konsep yang inklusif.

Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tentu saja akan memakmurkan umat Islam, namun dalam pelaksanaanya akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk menggerakkan roda perkonomian.

Diakui, sejak awal pendirian negara ini dengan falsafah Pancasila, nilai-nilai luhur bangsa sudah menjadi ruh dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang menjunjung tinggi keadilan, kebersamaan dan keseimbangan untuk mengelola sumber daya titipan Allah.

Hal tersebut sejalan dengan tujuan organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dituangkan dalam Sustainable development goals (SGDs) untuk kesinambungan hidup masyarakat dunia secara menyeluruh.

Dalam perkembangannya, ekonomi dan keuangan syariah dunia bertumbuh sangat pesat. Pada 2015 tercatat volume industri halal global mencapai 3,84 triliun dolar Amerika Serikat (AS) dan diprediksi pada 2021 meningkat menjadi 6,38 triliun dolar AS.

Posisi Indonesia sendiri, meskipun dapat menempati posisi ke-10 sebagai pemain dalam industri keuangan syariah global, namun masih menjadi pasar terbesar dunia untuk pemasaran produk halal. Sebagai gambaran, pada 2015 Indonesia merupakan pangsa pasar utama dari produk halal domestik.

Mencermati kondisi itu, perwakilan pelaku ekonomi dan perbankan syariah dari 18 provinsi di KTI berkumpul di Makassar mengikuti Festival Ekonomi Syariah (FESyar) KTI di Makassar.

"Penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah di Sulawesi Selatan ini merupakan rangkaian dari menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang akan dilaksanakan di Surabaya pada tanggal 8 hingga 11 November 2017," kata Penyelenggara yang juga adalah Kepala Kpw Bank Indonesia (BI) Sulsel Bambang Kusmiarso di Makassar.

Menurut dia, FESyiar yang diikuti perwakilan 18 provinsi di KTI itu dalam rangka mendorong pengembangan keuangan syariah dan kegiatan ekonomi di sektor riil.

Kegiatan serupa juga dilakukan pelaksana FESyar di Kota Bandung dan Kota Medan untuk menghimpun provinsi di bagian barat dan tengah Indonesia.

Pelaksanaan Fesyar pertama di KTI ini, lanjut Bambang, menjadi sebuah momentum penting mengingat beberapa hal seperti potensi pariwisata Islami yang masih belum tergali secara optimal di KTI.

"Potensi zakat dan wakaf di Kawasan Timur Indonesia cukup besar. Total penerimaan Zakat, Infaq dan Sadaqoh (ZIS) di SulSel selama 2015 mencapai Rp80,3 miliar," katanya.

Dari jumlah tersebut, komposisinya Rp59,50 miliar berasal dari zakat fitrah diikuti Rp5,12 miliar dari zakat mal, dan Rp15,70 miliar dari infaq.

Disamping itu, terdapat potensi khusus yang dapat dikembangkan seperti di Sulsel yang memiliki 10.440 tanah wakaf dengan luas 1.029 juta meter persegi. Sekitar 23,35 persen dari tanah wakaf nasional dan 53 persen di antaranya telah bersertifikat wakaf.

Sementara dari potensi santri di Sulsel, mencapai 66.217 orang yang tersebar di 294 pondok pesantren atau terbanyak ke-2 di KTI dan ke-9 nasional.

Jumlah penduduk muslim Sulsel mencapai 7,2 juta orang atau setara dengan 28,56 persen penduduk muslim di KTI.

Sementara latar belakang FESyar itu sendiri adalah untuk lebih memperkenalkan kepada masyarakat luas mengenai pentingnya pengembangan ekonomi syariah di Indonesia khususnya di KTI.

Kendati diakui Bambang, ekonomi syariah belum banyak berkembang sehingga dengan adanya FESyar diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat mengenai sistem ekonomi syariah, sehingga ekonomi syariah di Indonesia dapat berjalan dan berkembang.

Sementara itu, pengamat ekonomi syariah yang juga Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar Prof Dr Halide mengatakan, apabila potensi ZIS dapat diimplementasikan secara optimal dalam mendukung ekonomi dan keuangan syariah, tentu kesejangan sosial dapat ditekan dan otomatis dapat mengentaskan kemiskinan.

Khusus dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), lanjut dia, untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dengan negara lain yang terlebih dahulu menerapkan ekonomi dan keuangan syariah, perlu dilatih "hard" and "soft" skillnya secara intensif dan berkelanjutan, baik di perguruan tinggi maupun lembaga yang mampu memberikan sertifikat yang diakui dunia.

Pelatihan dan sertifikat asi ya g misalnya International Centre for Education in Islamic Finance (INCEIF), Islamic Research and Training Institut (IRTI) dan International `Research Akademy for Islamic Finance (ISRA).

"Intinya, SDM akan memapu memegang teguh nilai-nilai penting seperti keadilan, kebaikan, kebebasan, persaudaraan dan persamaan yang dipraktekkan di dunia kerja," katanya sembari mengimbuhkan nilai-nilai itu adalah cerminan prilaku Nabi Muhammad SAW dalam ajaran Agama Islam.

Galakkan Sosialisasi

FESyar KTI 2017 yang digelar di Kota Makassar ini menjadi salah satu upaya menggalakkan sosialisasi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, khususnya di KTI.

"Pada puncak festival yang berlangsung 25 - 27 Agustus 2017 ini, ada lima konsep kegiatan yakni fashion, food, finance, funtrepreneur dan fundutainment (F5)," kata Penyelenggara FESyar Bambang Kusmiarso.

Mantan Kepala Perwakilan BI Singapore ini mengatakan, FESyar tersebut bertujuan mendorong peningkatan peran ekonomi syariah dalam rangka penguatan ekonomi nasional.

Pada kegiatan FESyar di Makassar selain diisi dengan talkshow disalah satu hotel, juga digelar kuliah umum dengan tema "Perkembangan Terkini dan Blueprint Ekonomi Syariah" di Universitas Negeri Makassar (UNM), IAIN Palopo dan Universitas Muhammadiyah Parepare.

Khusus kegiatan talkshow, terdapat lima item bahasan yakni mendorong pengembangan `Islamic Social Finance` dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera, enterpreneur muda berbasis syariah di tingkat KTI, kemandirian pesantren, industri halal dan yang muda yang kreatif.

Adapun kegiatan lainnya yang merupakan bentuk kepedulian sosial adalah aksi donor darah dan pemilihan pesantren unggul. Termasuk perlombaan kaligrafi, duta ekonomi syariah, kesenian daerah, enterpreneur muda dan dai cilik.

Pada pemilihan pesantren unggul, Pondok Pesantren (Ponpes) As`adiyah Kabupaten Sengkang, Sulawesi Selatan dinobatkan mewakili KTI pada perhelatan Indonesia Shari`a Economic Festival (ISEF) di Surabaya pada November 2017.

Terpilihnya Ponpes ini sebagai pesantren unggul, karena dinilai memiliki kemandirian ekonomi dengan pengelolaanya yang dapat dijadikan sebagai model pengembangan ekonomi syariah ke depan.

Dengan total aset yang dimiliki sekitar Rp561 miliar dari 15 sektor usaha yang dikelola, Ponpes As`adiyah mampu meraup keuntungan rata-rata Rp1,3 miliar per bulan.

Sementara tenaga yang mengelola 15 sektor usaha Ponpes ini, Majelis Ekonomi Ponpes As`adiyah Jafar Aras mengatakan, memberdayakan para alumni, sehingga ketika telah menyelesaikan pendidikan dapat langsung bekerja.

"Pada alumni itu, sebelumnya telah dipersiapkan dengan bekal ilmu di bangku pendidikan, juga diberi keterampilan berwirausaha, sehingga setelah lulus tidak menjadi tenaga pengangguran," katanya.

Karena itu, kisah kesuksesan dalam penerapan ekonomi syariah di Ponpes As`adiyah Sengkang tentu saja diharapakan dapat menjadi inspirasi bagi yang lainnya.

Realita kemampuan manajerial pengelola Ponpes itu hanya sebagian kecil dari banyaknya kegiatan dalam FESyar yang dapat dinikmati oleh pengunjung baik kalangan anak-anak hingga dewasa, karena disiapkan sesi yang menarik sesuai dengan kelompok usia.

Anak-anak misalnya dapat mengikut lomba mewarnai dan dai cilik, sedangkan remaja dapat mengikuti lomba kaligrafi dan peragaan busana muslim.

"Saya senang bisa ikut lomba pada FESyar ini, meskipun belum dapat juara, tetapi sudah dapat pengalaman berharga," kata Nur Ikhsan salah pengunjung yang juga adalah siswa Tsannawiyah Muhammadiyah Tallo.

Tak heran jika FESyar ini diibaratkan dengan "dongeng 1001 malam", karena semuanya komplit. Namun tidak diharapkan berakhir seperti cerita dalam dongeng, tetapi sebaliknya dapat diimplementasikan dalam dunia nyata dari semua hasil diskusi, seminar dan kuliah terkait ekonomi dan keuangan syariah pada FESyar KTI 2017.

Editor: Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga