Lalulintas Sulteng-Sultra lumpuh akibat banjir Konawe Utara

id banjir bandang,konawe utara,transportasi lumpuh, jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara,Lalulintas Sulteng-Sultra

Masyarakat menyeberangkan mobil dengan rakit untuk menerobos banjir di Linomoyo, Kabupaten Konawe Utara, Sultra, Kamis (24/5/2018). (Humas BPJN XIV Palu)

Asera, Sultra (Antaranews Sulsel) - Arus lalulintas yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, hingga Kamis (24/5) malam, masih lumpuh akibat banjir bandang yang menutupi jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sultra, sejak Senin (21/5).

Wartawan Antara yang melintas di lokasi banjir, sekitar 200 kilometer barat laut Kota Kendari, Sultra tersebut, Kamis (24/5) malam, menyaksikan hampir seratusan kendaraan yang umumnya truk-truk pengangkut kebutuhan pokok masyarakat masih bertahan untuk menunggu surutnya air.

Sekitar 700 badan jalan di dekat jembatan Linomoyo, Kecamatan Langgikima, masih tertutup air dengan ketinggian antara 50 sampai 120 centimeter sehingga kendaraan belum bisa melintas.

"Kalau kondisi dua hari lalu pak, ketinggian air di jalan ini sampai dua meter," kata seorang warga dusun di sekitar lokasi banjir.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk membuat rakit-rakit penyeberangan untuk menyeberangkan orang dan kendaraan sepeda motor bahkan mobil ukuran kecil.

Sebuah rakit yang bisa menyeberangkan sepeda motor dan mobil memungut tarif penyeberangan antara Rp500.000 sampai Rp700.000/mobil, sepeda motor Rp50.000/buah dan penumpang Rp25.000/orang.

Jasa rakit-rakit ini dimanfaatkan oleh masyarakat dari Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, untuk menyeberang ke Kendari, Sultra atau sebaliknya, namun tidak bisa membawa barang-barang kecuali pakaian.

"Kami berharap air ini bisa segera surut agar usaha kami bisa kembali lancar mengangkut barang-barang dagangan dari Kendari ke Bungku, Kabupaten Morowali," ujar seorang pedagang dari Bahodopi, Kabupaten Morowali.

Menurut dia, warga Kabupaten Morowali, Sulteng, menjadikan Kota Kendari sebagai tempat berbelanja berbagai jenis barang kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya karena jaraknya lebih dekat dan kondisi jalan rayanya lebih baik dibanding ke Palu, Sulteng.

"Menjelang Lebaran ini pak, permintaan masyarakat untuk berbagai kebutuhan sehari-hari sangat tinggi," ujarnya.

Dari Kota Bungku ke Palu, warga harus menempuh perjalanan darat sekitar 15 jam dengan jarak 550 kilometer, sedangkan kalau ke Kendari hanya sekitar 8 jam dengan jarak 350-an kilometer.

Meski genangan air akibat meluapnya air Sungai Linomoyo mulai surut, namun warga masih was-was akan banjir susulan karena hujan dalam intensitas kecil dan sedang masih terus turun di kawasan tersebut.

Selain banjir di Sungai Linomoyo, Kabupaten Konawe Utara, arus lalulintas Sulteng-Sultra ini juga terhambat longsor di Kecamatan Bungku Pesisir Sulteng, yang membuat badan jalan nasional sekitar 30 meter amblas sampai sekitar dua meter sehingga tidak bisa dilalui sama sekali.

"Untung di sekitar ini ada jalur alternatif melalui jalan tambang milik perusahaan pertambangan nikel, sehingga arus lalulintas tidak terputus total," kata Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR AKhmad Cahyadi yang sedang meninjau jalur trans Sulaawesi Sulteng-Sultra.

Banjir bandang di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konaqwe Utara, Sultra ini dilaporkan memusnahkan sekitar 10 buah rumah namun tidak ada korban jiwa, tetapi ratusan hektare perkebunan sawit dan sawah penduduk rusak, bahkan areal sawah yang siap panen kemungkinan tidak bisa dipanen lagi karena terlalu lama tergenang air.

Baca juga : Trans Sulawesi putus akibat longsor
Pewarta :
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar