Jaksa Mahkamah Shah Alam Malaysia tidak percaya "prank" Siti Aisyah

id kasus pembunuhan kakak tiri pemimpin Korea Utara,Kim Jong Nam, Siti Aisyah,Mahkamah Tinggi Shah Alam,Wan Shaharuddin Wan Ladin,malaysia,frank,adegan d

Dokumen foto terdakwa pembunuhan kakak tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jung-nam, warga negara Indonesia Siti Aisyah melakukan reka ulang peristiwa pembunuhan di Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (24/10/2017). ANTARA/Agus Setiawan

Kuala Lumpur (Antaranews Sulsel) - Jaksa Mahkamah Shah Alam Malaysia Wan Shaharuddin Wan Ladin dalam kasus pembunuhan kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Nam, tidak percaya pengolesan racun yang dilakukan perempuan Warga Negara Indonesia (WNI) Siti Aisyah dan warga Vietnam Doan Thi Huong merupakan adegan drama lelucon (prank) dalam kasus pembunuhan warga Korea Utara (Korut) Kim Jong Nam.

Wan Shaharuddin mengemukakan hal itu kepada wartawan di Shah Alam, Kamis, usai menghadiri sidang pembunuhan Kim Jong Nam di Mahkamah Tinggi Shah Alam.

"Saya pikir kami telah menempatkan kasus kami sehingga kami hanya menunggu keputusan pengadilan tinggi. Kami telah membuktikan semua elemen untuk dakwaan untuk kedua terdakwa. Jadi sekarang bagi mereka untuk menjelaskan perilaku mereka karena kami telah membuktikan semua tindakan mereka," katanya.

Baca juga: Siti Aisyah melakukan beberapa "prank"

Dia percaya semua orang telah melihat semua perilaku tersangka berdasarkan pada cakram digital (DVD) sehingga pihaknya berdoa yang terbaik untuk penuntutan dan keadilan akan menang.

"Sebuah lelucon tidak sesuai dengan serangan atau menggunakan kekuatan kriminal melawan Kim Chol atau Kim Jong Nam dalam kasus ini. Jadi, mereka harus menjelaskan. Bukan untuk kita menjelaskan dan bukan untuk pengadilan untuk menjelaskan kepada mereka. Ini untuk mereka," katanya.

Wan Shaharuddin juga membantah bahwa seluruh kasus ini adalah konspirasi politik dimana Korea Utara ingin membunuh Kim Jong Nam dan bukan dua wanita tersebut.

"Saya tidak peduli. Tidak ada bukti plot politik. Tidak ada bukti konspirasi kriminal. Yang lebih penting adalah seseorang meninggal dan kami telah membuktikan bahwa dua orang telah menyebabkan kematian. Keempat warga Korea Utara yang melarikan diri tidak menerapkan VX atau zat beracun kepada korban. Tidak penting bagi kita untuk membuktikan," katanya.

Dia tidak bisa mengatakan kalau orang Korea Utara adalah dalangnya karena pihaknya harus mendengar terdakwa pada pembelaan pertama.

"Ini adalah kasus pertama dimana zat berbahaya dioleskan ke wajah dan mata. Mengapa mereka tidak mengoleskan ke tubuh jika itu adalah sebuah lelucon. Niat datang dalam berbagai cara. Anda dapat membuktikannya berdasarkan lingkungan dan perasaan umum, bagaimana cara mereka menyerang. Apa substansi yang mereka gunakan. Mereka menggunakan senjata paling mematikan di dunia," katanya.

Putusan sela hakim untuk menentukan ada atau tidak prima facie dalam dakwaan jaksa akan ditentukan (16/8).

Pada sidang nanti hakim akan memutuskan apakah dakwaan jaksa mempunyai fondasi / bukti awal yang cukup.

"Jika hakim memutuskan jaksa gagal menunjukkan prima facie dalam dakwaan-nya, maka kasus akan berhenti (acquittal) di tingkat Mahkamah Tinggi, sampai jaksa banding ke Mahkamah Rayuan di Putrajaya," ujar seorang diplomat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur.

Baca juga: Terungkap fakta mengejutkan dari pembunuhan Kim Jong-nam
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar