Forum rektor bahas strategi visi Indonesia 2045

id forum rektor,bahas visi indonesia 2045

Forum Rektor Indonesia (Ist)

Meskipun tidak ada data pasti, namun diperkirakan ada sekitar 5 sampai 7 juta diaspora Indonesia di seluruh dunia. Menurut estimasi Kementerian Luar Negeri pada 2017, terdapat sekitar 6 juta orang Indonesia di luar negeri
Makassar (Antaranews Sulsel) - Forum Rektor Indonesia (FRI) menggelar "Conference of Indonesian Diaspora Youth" (CIDY) bertema "Merancang Visi Indonesia 2045" di Jakarta, Selasa.

Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), Prof Dr Aries Tina Palubuhu MA menjadi narasumber utama dalam kegiatan itu memaparkan pandangan dan gagasannya pada pidato bertema "Indonesia 2045" terkait realitas diaspora Indonesia yang merupakan potensi besar bagi masa depan Indonesia

"Meskipun tidak ada data pasti, namun diperkirakan ada sekitar 5 sampai 7 juta diaspora Indonesia di seluruh dunia. Menurut estimasi Kementerian Luar Negeri pada 2017, terdapat sekitar 6 juta orang Indonesia di luar negeri. Mereka-mereka ini memiliki kemampuan, keahlian, dan pengetahuan yang luar biasa, bahkan tidak sedikit yang mencatatkan prestasi mengagumkan di luar negeri," katanya.

Konferensi yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang dipimpin oleh mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal tersebut dihadiri oleh sekitar 850 peserta Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dari seluruh dunia, wakil-wakil dari 34 provinsi, serta wakil-wakil mahasiswa dan pelajar dari seluruh Indonesia.

Ia menjelaskan, kekuatan diaspora Indonesia seharusnya dapat dioptimalkan untuk mencapai Indonesia masa depan yang unggul dan memiliki daya saing.

Visi Indonesia telah dicanangkan oleh berbagai institusi. Bappenas, misalnya, merumuskan Indonesia masa depan sebagai negara yang berdaulat, maju, adil, dan makmur. Forum Rektor Indonesia merumuskan visi Indonesia 2045 sebagai "Negara Sejahtera". Sementara Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menggunakan istilah "Generasi Emas".

Untuk mencapai kondisi Indonesia sejahtera atau generasi emas pada tahun 2045, negara memiliki sejumlah tantangan yang harus dijawab sejak sekarang.

Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) merumuskan setidaknya 10 tantangan yang dihadapi, yaitu middle income trap, keamanan dan kedaulatan pangan, ekologi yang selalu berubah, kelas menengah yang bertumbuh, cadangan energi fosil yang menipis, demokrasi yang masih muda, keragaman suku dan budaya, megabiodiversity, sumber daya maritim yang belum tergali, serta status "ring of fire" yang membuat kita rentan terhadap bencana alam.

"Tidak ada jalan lain, Indonesia harus memperkuat pendidikan, memperkuat karakter bangsa, untuk meningkatkan daya saing. Untuk itulah, peranan masyarakat terdidik ini sangat penting," katanya.

Dalam rangka mewujudkan Indonesia 2045 yang dicita-citakan tersebut, pihaknya menawarkan tiga fokus utama dalam pembangunan nasional.

"Pertama adalah kita harus fokus pada peningkatan SDM melalui pendidikan, kesehatan, dan karakter. Kedua, kita harus konsisten menjaga dan memperkuat NKRI melalui kepemimpinan cerdas berkarakter, nasionalisme dan cinta tanah air, dan penguatan demokrasi pancasila. Ketiga, kita harus fokus mewujudkan masyarakat yang sejahtera melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dan inovasi teknologi unggul," sebut dia.

Ia menutup presentasinya dengan memaparkan tiga wujud Indonesia 2045 yang dicita-citakannya, yaitu: bangsa yang unggul, negara adil dan demokratis, masyarakat cerdas dan sejahtera.

"Cita-cita ini dapat kita capai dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang handal, serta mengoptimalkan sinergi antara seluruh elemen bangsa Indonesia," tutupnya.

Turut hadir sebagai pembicara dalam forum ini adalah beberapa tokoh inspiratif yang menorehkan prestasi atau yang memiliki kisah hidup membanggakan, antara lain Ranomi Kronowidjojo (perenang olimpiade), Dr Dino Patti Djalal (Ketua Dewan Pembina Indonesian Diaspora Network Global), dan Fadjar Mulya (Koordinator PPI Dunia).
Pewarta :
Editor: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar