Dua ilmuan diaspora beri kuliah umum di Unhas

id Ilmuan diaspora,Kuliah umum,Unhas

Universitas Hasanuddin Makassar (ist)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Dua ilmuan diaspora Indonesia yakni Prof Sitti Kusujiarti PhD dari Warren Wilson College, Amerika Serikat dan Assoc. Prof Sulfikar Amir PhD dari Nanyang Technology University, Singapura menyampaikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.

Wakil Rektor Bidang Akademik Unhas, Prof Dr Muhammad Restu,MP di Makassar, Kamis mengatakan keduanya sengaja diundang untuk membawakan kuliah umum yang bertema "Interdisciplinary Studies And World Class University: Responding To Challenges In Entering Industrial Revelution 4.0" di ruang senat gedung rektorat Unhas Makassar.

Sesi kuliah ini merupakan momentum yang baik bagi Unhas untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kampus dan dapat mengantisipasi perkembangan pembelajaran yang dipicu oleh kemajuan teknologi. Dinamika pembelajaran itu perlu direspon dengan berkolaborasi dengan ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang berada di luar negeri, ujarnya.

Kegiatan kuliah umum tersebut dihadiri puluhan dosen dan mahasiswa tersebut dibuka secara resmi Prof Restu.

Wakil Rektor Bidang Akademik ini berharap pada peserta kuliah umum untuk memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiskusi dan membangun jejaring untuk mengembangkan riset dan publikasi internasional.

"Kita berharap pada Prof Sitti dan Prof Sulfikar menjadi bagian dari Universitas Hasanuddin, sehingga kita bisa bersama-sama berkolaborasi dan mengembangkan lebih jauh tema diskusi hari ini," ujarnya.

Dalam sesi persentasi kuliah tersebut, Prof Sitti Kusujiarti mengatakan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi merupakan gejala global karena dunia saat ini mengalami integrasi menjadi satu kesatuan yan tak terpisahkan, sehingga perguruan tinggi sebagai sebuah institusi harus mengikuti tren tersebut.?

Internasionalisasi perguruan tinggi, menurut dia, memiliki beberapa indikator, di antaranya publikasi internasional, pengiriman dosen dan mahasiswa ke luar negeri, international award, penelitian kolaborasi dengan berbagai institusi di luar negeri, rangking internasional, dan lainnya.?

"Indikator-indikator ini sebenarnya hanya berasal dari perspektif tertentu dalam melihat internasionalisasi perguruan tinggi. Dua perspektif yang sekarang dominan adalah perspektif instrumentalist dan idealis," ungkap dosen Sosiologi Warren Wilson College itu.?

Prof Sitti memaparkan, perspektif instrumentalist dalam internasionalisasi perguruan tinggi merupakan pendekatan yang selalu mengutamakan pada jumlah publikasi, rangking internasional, dan sejenisnya yang berbasis pada data kuantitatif.

Sementara perspektif idealis adalah pendekatan yang menekankan pada integrasi ide-ide dan nilai-nilai budaya ke dalam kurikulum dan pendidikan perguruan tinggi.?

"Pertanyaannya, bisakah kita menggabungkan kedua pendekatan itu, sehingga apa yang kita lakukan dalam internasionalisasi itu bukan hanya dilihat secara kuantitatif tetapi juga kualitatif," sebutnya.

Ilmuwan diaspora yang menetap di AS itu juga membahas tentang kaitan internasionalisasi perguruan tinggi dengan pengarusutaman gender.

Istilah gender, katanya, adalah konstruksi sosial yang berkaitan dengan peran dan pekerjaan lelaki atau perempuan di masyarakat, karenanya konstruksi sosial itu sangat dinamis dan berubah.?

Sementara Prof Sulfikar Amir dalam paparan awalnya mengatakan, 10 tahun lalu Nanyang Technology University (NTU) tidak banyak ?yang mengenalnya, namun kini menurut rilis sebuah lembaga rangking perguruan tinggi internasional dua pekan lalu, NTU menduduki posisi ke-11.

Pencapaian itu, kata Prof Sulfikar, tidak terlepas dari besarnya anggaran yang digelontorkan NTU dalam belanja institusinya sebesar Rp18 triliun dalam satu tahun.?

"Faktor utama memang uang, tapi ada faktor lain, seperti budaya kerja, etos kerja, transparansi, dan sebagainya yang tidak bisa dibeli dengan uang. Singapura membangun itu selama 50 tahun," ungkap dosen NTU tersebut.

Dalam persentasinya, Prof Sulfikar Amir membahas tentang teknologi dan industri 4.0. Sosiolog jebolan Amerika Serikat tersebut menjelaskan bahwa kehidupan manusia sekarang sudah sangat bergantung pada teknologi. Sehingga, untuk memahami dinamika masyarakat modern harus mengaitkannya dengan keberadaan kemajuan teknologi.?

"Karena setiap aspek dalam kehidupan kita selalu menggunakan teknologi. Ketika kita bangun, misalnya, yang pertama kita cari adalah hape. Belum lagi teknologi lain, seperti televisi, transportasi, dan sebagainya," paparnya.?

Prof Sulfikar juga mengungkapkan, inti revolusi industri 4.0 ada tiga, yaitu digitalisasi, otomasi, dan interkonektisitas. Secara sosiologis industri 4.0, menurutnya, bukan sistem yang otonom, yang bisa bekerja sendiri.

Industri 4.0 adalah sebuah sistem sosial teknologi yang dipicu dan digerakkan oleh kondisi dan keadaan sosial masyarakat setempat.?

"Jadi kesimpulannya, teknologi itu akan berubah kalau masyarakatnya juga berubah," jelasnya.
Pewarta :
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar