Produksi kakao Luwu turun akibat pupuk minim

id pt mars,produksi kakao,lamasi,luwu,sulawesi selatan,pupuk,bulu londong,lamasi timur

Produksi kakao Luwu turun akibat pupuk minim

Petani kakao di Desa Bulo Lorong, Kab.Luwu sedang memperlihatkan perbandingan buah kakao, Kamis (27/9). Foto Humas PT MARS

"Kalau satu hektare hanya mampu menghasilkan 275 kg biji kakao kering, padahal idealnya bisa sampai satu ton biji kakao kering.
Makassar (Antaranews Sulsel) - Produksi kakao petani di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, terus mengalami penurunan akibat ketersediaan pupuk minim.

"Kalau satu hektare hanya mampu menghasilkan 275 kg biji kakao kering, padahal idealnya bisa sampai satu ton biji kakao kering," kata salah seorang petani di Bulu Londong, Kecamatan Lamasi Timur, Kabupaten Luwu, Nara menanggapi minimnya persediaan pupuk, Kamis.

Dia mengatakan, tak heran jika ada pupuk Ponska untuk kebutuhan perkebunan, langsung "dikeroyok" para petani.

Menurut dia, minimnya pupuk jenis tersebut mengakibatkan harga pupuk di lapangan naik dibandingkan harga normal. Apalagi pupuk jenis ini jauh lebih murah dibandingkan jenis pupuk lainnya seperti Fertila yang harganya kisaran Rp300 ribu - Rp500 ribu per zak, sehingga menjadi rebutan petani kakao.

Ketersediaan pupuk Ponska, salah satu merk pupuk yang sering digunakan para pekebun, diakui Nara menjadi hambatan yang sudah dirasakan bertahun-tahun oleh pria parubaya yang sudah bertani sejak tahun 1986 ini.

Sementara HUB Manager Luwu PT Mars, Muhajir yang kerap mendampingi petani kakao di lapangan mengatakan, pupuk ponska yang disubsidi pemerintah sebenarnya tidak diperuntukkan bagi petani kebun, tapi untuk petani sawah, sehingga hal ini pun menjadi satu permasalahan di lapangan.

"Pupuk khusus kakao memang lumayan mahal, namun hasilnya pun dianggap sangat sebanding dengan harganya," ujarnya.

Persoalan lainnya, lanjut Muhajir, yang juga mempengaruhi produk kakao cenderung terus menurun adalah

tanamannya yang sudah tua, petani tua, hama penyakit dan cara klon.

Berkaitan dengan hal tersebut maka petani kakao diminta untuk fokus meningkatkan produksi kakaonya dengan melakukan peremajaan tanaman kakao, mencari bibit unggul dan melakukan pemujaan yang berimbang.

Adapun luas areal tanaman kakao di Luwu Utara dari data Dinas Perkebunan Sulsel pada 2016 tercatat 38.127,60 hektar dengan produksi 26.120,85 ton.

Sedangkan di Luwu Timur jumlah produksi kakao pada 2016 mencapai 12.250,40 ton dengan rata-rata produksi 0,83 ton per hektare.
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar