8.550 personel TNI-Polri normalisasi pascagempa Sulteng

id tni-polri,bantu pascagempa

Personel TNI dan Polri berjaga di sekitar galeri ATM Kantor Cabang Bank Mandiri Palu, di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (8/10). Aparat keamanan dari TNI dan Polri disiagakan pada bank, pertokoan, pasar, dan sejumlah objek vital lainnya guna memberikan rasa aman kepada masyakarat maupun pelaku usaha pascagempa dan tsunami 28 September 2018. (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/kye/18.)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Sebanyak 8.550 personel TNI-Polri dilibatkan dalam penanggulangan bencana pascagempa tsunami di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi dengan menormalisasi wilayah agar dapat kembali bangkit dari peristiwa bencana tersebut.

"Secara keseluruhan, personel yang terlibat dalam penanggulangan bencana terdiri dari 6.522 orang anggota TNI dan 2.028 anggota Polri, selain itu banyak relawan yang terjun langsung di lapangan,"kata Danrem 132/Tadulako Kolonel Inf Agus Sasmita melalui siaran persnya, diterima, Rabu.

Hingga saat ini, kondisi kota berangsung-angsur membaik, aktivitas warga mulai normal, ?Hal ini tidak terlepas dari partisipasi berbagai pihak untuk turut serta membangun dan mengembalikan wilayah tersebut seperti sebelum bencana. "Jumlah tersebut belum termasuk dari unsur-unsur pemerintah yang turut terjun langsung ke lapangan, di mana peran mereka dan para relawan, sesungguhnya sangat luar biasa dan heroik," katanya.?

Berdasarkan data yang dilaporkan sampai dengan pukul 17.00 WIB, jumlah korban meninggal semula mencapai 2.002 orang bertambah menjadi 2.037 orang dan sudah dimakamkan seluruhnya. "Dari jumlah tersebut, jenazah yang dimakamkan secara massal sejumlah 894 orang dan lainnya 1.068 orang diambil oleh pihak keluarga untuk dimakamkan mereka" ujar Agus.

Sementara korban hilang yang terdata masih ada 671 orang dan tertimbun 152 orang. Sehingga pihaknya masih akan meneruskan pencarian dengan harapan masih ditemukan yang masih selamat.

Menurut Agus dari 14 Rumah Sakit yang ada hanya 12 RS yang operasional, yaitu sembilan Rumkit di Palu, dua Rumkit Donggala, satu Rumkit Sigi serta dua Rumkit Pelayanan TNI yaitu RS KRI Suharso dan Rumkitlap di Balaroa. "Keberadaan Rumkit tersebut diharapkan dapat menampung pelayanan bagi 74.044 pengungsi, itupun jika memang mereka mengalami keluhan sakit ataupun memerlukan perawatan khusus," katanya.

Berkaitan dengan aktifitas anak sekolah, menurut dia, dari 91 SMA, 128 SMP dan 495 SD, baru dua SMA dan satu SMP yang aktif, sedangkan SD belum aktif secara keseluruhan berada di Kota Palu.

Untuk penunjang perekonomian, dari delapan pasar di Palu, 16 pasar di Donggala dan satu pasar di Sigi yang sudah beroperasional sebanyak tiga pasar dan itu juga yang berada di Palu. "Daerah Donggala, kita sudah distribusikan logistik sebanyak enam Sorti ke Desa Lende Kecamatan Balaesang Tanjung dan Desa Rano menggunakan helikopter serta empat truk ke posko pengungsi sektor Kabupaten Sigi," ujarnya.

Sedangkan untuk mendukung ketersediaan logistik, sampai hari ini sudah ditambah dapur lapangan di enam Lokasi yakni di Desa Dolo, Pasar Biromaru, Desa Lolu, Desa Sibalaya, di lapangan Madani Biromaru, dan Desa Ngatabaru.

Secara keseluruhan, menurut dia, bahwa sampai hari ini jajaranya yang berada dibawah kendalinya telah mengevakuasi 35 jenazah dan langsung dikuburkan secara massal. Mendistribusikan logistik ke 100 titik di Sigi.

Selanjutnya, memindahkan tenda pengungsian ke lapangan Faqih Rasyid ?di Makorem 132 Tadulako, membuka akses jalan kota Palu ke Kulawi, pendampingan dan pencarian korban di Balaroa dan Petobo, melaksanakan orientasi tanah longsor di Desa Tafae, dan memberikan pengobatan terhadap korban gempa di Kecamatan Balesang Tanjung, Desa Balaroa, dan Desa Lende. "Bagi tenda pengungsian, saat ini telah kita siapkan 64 tenda dan MCK di tiga titik yang dikendalikan oleh Dandim 1306 Donggala. Kita rencanakan lusa akan disiapkan kembali 20 tenda dan MCK di tiga titik lagi,seluruhnya dalam ukuran besar, agar para pengungsi nantinya merasa nyaman," kata Agus.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar