Peringati HAKPA KSPA Sulsel kampanyekan hak perempuan

id kspa,ari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan,HAKTP 2018,Manager Program MAMPU BaKTI, Lusia Palulungan

Manager Program MAMPU BaKTI, Lusia Palulungan (kanan) saat dialog publik di Sekretariat AJI Makassar, Sabtu, (24/11/2018). )Antaranews Sulsel/Darwin Fatir)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Gabungan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Provinsi Sulawesi Selatan menamakan diri Koalisi Stop Perkawinan Anak (KSPA) mengelar kampanye hak perempuan selama 16 hari, mulai 25 November-10 Desember 2018 serangkaian memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) 2018.

"Peringatan 16 HAKTP adalah sebuah kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia," ujar Manager Program MAMPU BaKTI, Lusia Palulungan di Makassar, Minggu.

Menurut dia, dipilihnya rentang waktu 16 hari tersebut untuk menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan.

Selain itu, Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, hingga 10 Desember yang juga diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional.

Rangkaian kegiatan kampanye selama 16 hari tersebut dilaksanakan di berbagai titik, seperti dialog tentang hak perempuan, talk show di beberapa media hingga gerakan aksi di lapangan di Sulsel. 

Kemudian pencegahan perkawinan anak dalam kuliah tematik, aksi bersama, dialog media, sosialisasi ke sekolah-sekolah, Temu Remaja, Inspirasi BaKTI, publikasi media dan berbagai kegiatan lainnya untuk mendiskusikan, membahas, mensosialisasikan dan mengkampanyekan pencegahan perkawinan anak.

Di Indonesia, kampanye HAKTP dimulai pada 2003 oleh Komisi Nasional (Komnas) Perempuan. Dan setiap akhir tahun aktivis perempuan, organisasi perempuan, masyarakat sipil, dan instansi pemerintah melaksanakan berbagai kegiatan untuk memperingatinya.

Tahun ini, tema peringatan HAKTP di Sulsel yakni` Gerak bersama untuk Pencegahan Perkawinan Anak, dengan mengkampanyekan `Pelaminan Bukan Tempat Bermain Anak`.

Pilihan tema tersebut didasarkan pada realitas mengenai perkawinan anak yang merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang juga kemudian melahirkan bentuk kekerasan baru terhadap perempuan dan anak.

Selain kegiatan tersebut, juga akan dilakukan kampanye bersama melalui media sosial dengan menggunakan Frame Cegah Kawin Anak dan Hashtag: #HAKTP, #Gerak Bersama, #CegahKawin Anak.

Sejumlah lembaga dan instansi yang berkolaborasi dalam Peringatan 16 HAKTP ini dalam mengkampanyekan Pencegahan Perkawinan Anak seperti Yayasan BaKTI, ICP, AIPJZ Makassar, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, FPMP Sulsel, KPI Sulsel, LPA Sulsel.

Selanjutnya, LPA Dewi Keadilan Sulsel, SPAK Sulsel, YASMIB Sulawesi, HWDI Sulsel, FORHATI Sulsel, DPD I KNPI Sulsel, Fatayat NU Sulsel dan AJI Makassar.

Selain itu Sekolah PRT Paraikatte, FIK ORNOP, KPI Cabang Takalar, KPI Cabang Makassar, Radio RAZ FM, Radar Selatan, Ve Channel, Radio GAMASI FM, Kompas TV, Dinas PPPA Kabupaten Maros, Dinas PPPA Kota Makassar dan Dinas PPPA Provinsi Sulsel.

World Fertility Policies United Nation (2011) menempatkan Indonesia di urutan ke-37 dari 73 negara dengan perkawinan anak tertinggi di dunia. Sedangkan di Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara kedua setelah Kamboja dengan perkawinan anak tertinggi.

Sementara Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia (2015) menyebutkan sekitar dua juta perempuan Indonesia di bawah 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah. Badan Pusat Statistik (BPS) juga memperkirakan sekitar 1.000 anak perempuan dikawinkan setiap harinya.

Survei BPS tahun 2017 mengenai persentase perempuan berumur 20-24 tahun yang perkawinan pertamanya di bawah 18 tahun menyebutkan bahwa, sebaran angka perkawinan anak di atas 10 persen merata berada di seluruh provinsi Indonesia.

Sedangkan sebaran perkawinan anak di atas 25 persen berada di 23 provinsi dari 34 provinsi di Indonesia. Hal ini menujukkan berarti 67 persen wilayah di Indonesia darurat perkawinan anak.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar