Gubernur: pengusaha Jepang akan relokasi budidaya ikan tuna ke Sulsel

id ehime,perusahaan jepang,jusuf kalla,nurdin abdullah

Wapres Jusuf Kalla (dua kiri) menerima Gubernur Prefektur Ehime di Jepang Tokihiro Nakamura yang didampingi oleh Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (14/1/2019). (Ist)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Gubernur Sulawesi Selatan HM Nurdin Abdullah mengatakan Gubernur Ehime, Jepang bersama rombongan pengusaha akan meninjau lokasi pengembangan budidaya ikan tuna sebagai bagian rencana melakukan relokasi budidaya di Sulsel.

"Mereka (para pengusaha) akan melakukan relokasi budidaya pengembangan ikan tuna di Sulsel untuk menutupi kebutuhan pasar dunia," kata Nurdin Abdullah usai mendampingi Gubernur Ehime Jepang menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di Jakarta, Senin.

Menurut gubernur, Gubernur Ehime bersama Presiden Ehime Bank Ltd, Tokihiro Nakamura, Yoshinori Nishikawa yang memimpin rombongan 22 delegasi yang terdiri atas pengusaha dari Ehime Jepang.

Ia menjelaskan, pada Selasa (15/1) hingga dua hari ke depan, rombongan asal Jepang ini akan berada di Makassar dan merupakan kunjungan balasan setelah Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah pada bulan Desember 2018 melakukan kunjungan ke Ehime.

Nurdin melanjutkan, pihak Jepang akan mengirim beberapa sumber daya manusia (SDM) yang memiliki keahlian di bidang akuakultur untuk memberikan pelatihan. Selain menyiapkan sumber daya manusia, juga pembangunan infrastuktur, sehinggi transfer knowledge dan teknologi dapat dilakukan. "Infrastruktur juga mulai dibangun dan mereka juga sudah siap untuk training di Indonesia untuk bekerja sama," sebutnya.

Dalam pertemuan pertama itu, Gubernur Sulsel menyatakan belum mengetahui berapa besaran investasinya, tetapi menurut dia, di Sulsel hampir semua visible (dapat) untuk dilakukan budidaya untuk daerah pesisir pulau-pulau, setelah pihak mereka melakukan survei, kecuali wilayah daratan. "Selayar itu cukup bagus, selain luas, juga wilayahnya belum tercemar karena mereka (pengusaha jepang) membutuhkan wilayah yang masih virgin," ujar Nurdin.

Ia mengatakan di Jepang telah melakukan budidaya ikan dengan mengembangkan satu keramba dengan 1.500 ekor, dan dalam empat tahun bisa menjadi 100 kilogram.  "Itu di Jepang memiliki empat musim, maka kita coba di Indonesia dalam dua tahun bisa menjadi 100 kilogram. Nah satu keramba itu nilainya sekitar Rp27 miliar," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar