Penurunan harga BBM picu deflasi -0,19 persen di Sulsel

id bps,bps sulsel,picu deplasi

Arsip : Kepala BPS Sulsel Yos Rusdiansyah saat menggelar press release berita resmi statistik sulsel di kantornya. Foto/Antaranews/Muh Hasanuddin.

Makassar, (Antaranews Sulsel) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat angka deflasi di provinsi tersebut pada Februari 2019 sekitar -0,19 persen disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Kepala BPS Sulsel Yos Rusdiansyah di Makassar, Jumat, mengatakan penyebab deflasi di daerah tersebut karena menurunnya beberapa indeks harga-harga.

"Faktor pendorong terjadinya deflasi itu disebabkan adanya penurunan indeks harga pada dua kelompok yang memiliki kontribusi cukup besar, diantaranya penurunan harga bahan bakar minyak," ujarnya.

Ia mengatakan deflasi pada Februari ini berdasarkan dua kelompok pengeluaran yang ditunjukkan oleh turunnya indeks harga konsumen pada kelompok tersebut.

Dua kelompok pengeluaran itu yakni bahan makanan yang menyumbang 1,00 persen; dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan menyumbang 0,43 persen.

Sementara itu, lima kelompok pengeluaran lainnya mengalami peningkatan harga, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau menyumbang 0,49 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,26 persen); kelompok sandang (0,11 persen); kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,09 persen); dan kelompok kesehatan (0,03 persen).

Untuk laju inflasi tahun kalender Januari-Februari 2019 Sulawesi Selatan sebesar 0,35 persen. Sedangkan laju inflasi tahunan atau year on year (Februari 2019 terhadap Februari 2018) sebesar 2,79 persen.

Menurut dia, penghitungan inflasi maupun deflasi Sulawesi Selatan bulan Februari 2019 didasarkan pada hasil survei harga konsumen yang dilakukan oleh BPS Provinsi Sulawesi Selatan pada pasar tradisional dan pasar modern atau swalayan di lima kota IHK nasional yaitu: Bulukumba, Watampone, Makassar, Parepare dan Palopo.
Pewarta :
Editor: M Darwin Fatir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar