PPI usulkan "Gerakan Kembali ke Desa"

id PPIT, Simposium PPI Asia-Oseania,kembali ke desa

Para pelajar asal Indonesia tampil dengan tarian tradisional pada Festival Budaya di Tianjin University Stadium di Kota Tianjin, China, Sabtu (18/5) malam. Festival Budaya tersebut digelar di sela-sela Simposium PPI Asia-Oseania di Tianjin pada 17-19 Mei 2019. (M. Irfan Ilmie)

Tianjin (ANTARA) - Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kawasan Asia-Oseania mengusulkan gerakan "Kembali ke Desa" bagi para mahasiswa di luar negeri.

"Ini merupakan terobosan baru agar kami bisa berkontribusi dalam pembangunan perdesaan di Indonesia," kata Ketua Umum PPI Tiongkok Fadlan Muzakki kepada Antara di Tianjin, China, Senin.

Dalam Simposium PPI Kawasan Asia-Oseania di Tianjin pada 17-19 Mei 2019 itu para delegasi melihat bahwa pembangunan perdesaan menjadi salah satu ujung tombak revolusi industri 4,0.

"Ini harus menjadi perhatian khusus bagi pelajar Indonesia di luar negeri agar bisa berkontribusi ke desanya masing-masing. Oleh karenanya, kami menyusun rekomendasi ini agar dapat diimplementasikan di organisasi kami," katanya.

Usulan "Gerakan Kembali ke Desa" tersebut sebagai tindak lanjut dari diskusi panel di Tianjin University, Minggu (19/5), yang disampaikan Budiman Sudjatmiko selaku inisiator dari Inovator 4,0.

"Nanti akan ada kampanye yang mengajak lulusan luar negeri untuk kembali ke desa, melihat permasalahan di desa, lalu membuat usulan dan solusi atas permasalahan tersebut. Selain itu juga, pelajar Indonesia di luar negeri dapat mendorong implementasi badan usaha milik desa agar desa-desa tersebut dapat mandiri," kata Ketua PPI Jepang Muhammad Syaban.

Menurut dia, PPI Jepang telah memiliki program serupa dengan memberangkatkan mahasiswa Indonesia S3 di Jepang ke desa-desa terluar, terbelakang, dan tertinggal.

"Mereka melakukan observasi dan penelitian mengenai keadaan daerah dan masalah-masalah yang dihadapi oleh daerah tersebut. Lalu, hasil kajian tersebut direalisasikan dalam bentuk program nyata untuk masyarakat," kata Syaban.

Ketua PPI Australia Hakam Junus menambahkan bahwa gagasan tersebut timbul untuk memperingati hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei 2019.

Sementara Wakil Ketua PPI Thailand Alim Bubu Swarga berpendapat bahwa gerakan tersebut sangat memungkinkan dilaksanakan karena adanya program dana desa dari pemerintah pusat.

Selain itu, menurut dia, gerakan tersebut dapat menjadikan alokasikan dana desa semakin terarah yang salah tujuan utamanya untuk menyelesaikan masalah ekonomi masyarakat desa dengan menghidupkan kembali Bumdes.

Usulan tersebut akan dibawa pada Simposium Internasional PPI Dunia di Malaysia pada 10-14 Juli 2019. "Mudah-mudahan usulan ini dapat disetujui," kata Koordinator PPI Asia-Oseania Galant Albarok berharap. 

 
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar