BPBD Sulteng kirim bantuan ke lokasi banjir bandang di Morowali

id bpbd sulteng,banjir bandang,morowali,Bartholomeus Tandigala

Pemandangan di Jembatan Dampala, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulteng yang ambruk dihantam banjir bandang pada Sabtu (8/6). Di lokasi ini karyawan PT.IMIP hilang saat berusaha menyeberang untuk menengok keluarganya, Senin (10/6) pagi. (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)

Palu (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah telah mengirim bantuan logistik dan sejumlah personel tim reaksi cepat menuju lokasi bencana alam banjir bandang di Kabupaten Morowali untuk membantu meringankan beban pemerintah daerah dan masyarakat yang terdampak bencana alam itu.

"Kami langsung mengerahkan dua unit kendaraan operasional yang membawa personel dan logistik ke lokasi bencana alam di Kabupaten Morowali," kata Kepala BPBD Provinsi Sulteng, Bartholomeus Tandigala kepada Antara di Palu, Senin malam.

Ia mengatakan satu truk mengangkut sejumlah jenis bantuan seperti tenda, matras, selimut dan jas hujan sesuai dengan kebutuhan.

Sementara satu truk lagi, khusus membawa personel tim reaksi cepat (TRC) dari BPBD Provinsi Sulteng.
Soal bantuan bahan makanan, kata dia, tidak disalurkan, sebab masih dapat ditangani oleh BPBD Kabupaten Morowali.

"Mereka sendiri yang mengatakan soal bantuan bahan makanan tidak perlu dari BPBD Provinsi Sulteng, sebab stok berbagai jenis bahan makanan yang ada di gudang BPBD Kabupaten Morowali masih cukup memadai," katanya.
Namun, jika masih perlu, BPBD Provinsi Sulteng siap saja untuk menyalurkan bantuan bahan makanan ke lokasi bencana alam banjir di Kabupaten Morowali tersebut.

Bartlolomeus menjamin logistik, termasuk obat-obatan dan bahan makanan serta peralatan rumah tangga lainnya yang ada sekarang ini di Kantor BPBD Sulteng juga masih mencukupi kebutuhan.
Artinya, persediaan logistik tetap ada dan jika dibutuhkan langsung disalurkan ke lokasi bencana.

Dia juga meminta kepada jajaran BPBD yang ada di kabupaten/kota di Sulteng untuk tetap siaga mengingat kondisi cuaca dalam beberapa hari ini dan ke depan masih ekstrem.

Dalam kondisi cuaca seperti itu, katanya, sangat berpotensi terjadinya berbagai bencana alam.
Sementara empat buah jembatan permanen di jalur utama trans Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara ruas Kabupaten Morowali dilaporkan ambruk dihantam banjir bandang yang melanda daerah itu sejak Sabtu (8/6).

Keempat jembatan ambruk tersebut Jembatan Bahoyuno di Kecamatan Bungku Barat, Jembatan Bahodopi, Jembatan Lalampu dan Jembatan Dampala di Kecamatan Bahodopi.
Putusnya keempat jembatan tersebut, Kecamatan Bahodopi yang merupakan lokasi kawasan industri pertambangan nikel terbesar di Indonesia yang mempekerjakan sekitar 35.000 tenaga kerja, kini terisolir dari perhubungan darat.

"Orang-orang dari Bahodopi tidak bisa ke arah Palu dan tidak bisa juga ke arah Kendari, karena di Kecamatan Asera, Kabupaten Konawe Utara, Sultra, jalan trans Sulawesi juga putus karena tergenang banjir," kata Taslim, Bupati Morowali yang ditemui Wartawan Antara Rolek Malaha di Desa Dampala.

Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengambil langkah cepat dengan menurunkan sebuah tim dari Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Wilayah Sulawesi Tengah dipimpin Kepala Satuan Kerja III Beny Birmansyah telah turun ke Morowali, Senin pagi untuk segera memulihkan stagnasi arus lalu lintas.

Dari empat jembatan itu, baru Jembatan Bahoyuno Wosu yang sudah terbuka setelah pihak BPJN, kontraktor dan masyarakat setempat memasang gelagar batang kelapa sehingga Kota Bungku, ibu kota Kabupaten Morowali, yang sempat terisolir selama beberapa jam bisa segera terbebaskan.

"Namun kami masih membatasi kendaraan yang melintas di jembatan ini, maksimum tiga ton, lebih dari itu, muatan harus dibongkar dulu baru bisa lewat," ujar Irvan Asmara, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 35 PJN XIV di lokasi jembatan Bahoyuno.

Arus lalu lintas di jembatan itu kini dijaga ketat aparat kepolisian dan Dinas Perhubungan agar tidak ada kendaraan yang melebihi tiga ton melintas.

"Bukan karena gelagar batang kelapa itu tidak kuat pak, tapi tanah tempat meletakkan gelagar itu sangat labil dan mudah runtuh karena berupa pasir, jadi kami jaga ketat kendaraan yang lewat agar tidak sampai longsor lagi. Kalau jalan ini putus, masyarakat Morowali pada umumnya akan kesulitan besar," ujar dia.
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar