BI minta daerah terus kembangkan industri manufaktur dan pariwisata

id Bank Indonesia,BI,Pariwisata,Industri

Perwakilan dari Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Nugroho Joko Prastowo menjadi pembicara dalam kegiatan "Capacity Building Wartawan Ekonomi Bisnis Sumatera Selatan" di Bali, Selasa (20/6). (Antara News Sumsel/Dolly Rosana/19)

Bali (ANTARA) - Daerah diminta terus membangun dan mengembangkan industri manufaktur dan sektor pariwisata karena menjadi solusi jitu untuk mengurangi defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit).

Perwakilan dari Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Nugroho Joko Prastowo Kamis,  mengatakan, hingga kini angka pertumbuhan impor masih lebih tinggi dari angka pertumbuhan ekspor.

Kondisi ini menyebabkan, Indonesia masih defisit untuk neraca pembayarannya karena transaksi berjalan masih lebih tinggi jika dibandingkan transaksi modal dan transaksi finansialnya. Bukan hanya kondisi ekspor-impor saja yang membuat transaksi berjaan Indonesia itu defisit, ternyata transaksi sektor jasa juga mengalami hal serupa.

"Terkait ini, BI sudah memetakan bahwa perlu adanya penguatan ekspor manufaktur dan pariwisata. Jadi daerah-daerah yang memiliki potensi sepatutnya untuk mengembangkannya, karena ini menjadi tugas kita bersama untuk menurunkan CAD," kata dia.

Nugroho yang menjadi pembicara pada kegiatan "Capacity Building Wartawan Ekonomi Bisnis Sumatera Selatan", menjelaskan, BI mengarahkan ke dua sektor ini karena merujuk ke sejumlah negara-negara maju.

Di negara-negara tersebut diketahui pertumbuhan ekonominya selalu terjaga di level tinggi karena memiliki pertumbuhan ekspor manufaktur yang tinggi pula.

Berdasarkan data diketahui ekspor manufaktur Tiongkok mencapai 88 persen, Thailand 67 persen, Malaysia 63 persen, Korea Selatan 84 persen, dan Vietnam 79 persen. Sementara Indonesia hanya 48 persen karena produk ekspor tertingginya yakni bersumber dari alam yakni batubara dan CPO (minyak sawit).

Bukan hanya baik dalam ekspor manufaktur, negara-negara maju tersebut juga suplus neraca pembayaran karena ditopang oleh surplus barang dan jasa yang kuat.

Terkait ini, Indonesia masih tinggi impornya jika dibandingkan ekspor, demikian juga dengan jasa. Untuk surplus barang, Indonesia hanya 18,81 miliar USD sementara Malaysia sudah 27,25 miliar USD, dan Thailand 34,16 USD. Sedangkan untuk jasa, Indonesia hanya meraup 7,38 miliar USD, Malaysia 5,31 miliar USD dan Thailand 28,86 miliar USD karena baiknya sektor pariwisata.

Untuk itu, perlu juga menggenjot sektor jasa, dan dalam kaitan ini Indonesia harus mengembangkan sektor pariwisata.

Bank Indonesia sudah mengeluarkan strategi bagaimana mengembangkan dua sektor ini yang dapat dijadikan acuan para pemangku kepentingan di daerah.

Untuk sektor pariwisata yakni perbaikan faktor produksi, pengaturan kelembagaan, dan penguatan kerja sama perdagangan dan promosi (3P).

Kemudian, sektor pariwisata penguatan destinasi (akses, atraksi, dan amenitas), penguatan promosi, penguatan pelaku pariwisata (3A2P).

"Sebagai contoh Bali. Di sini bukan tidak ada masalah dengan pariwisatanya, di sini sudah full kapasitas, tapi persoalan ini dapat diselesaikan dengan suatu strategi" kata dia.

Solusinya, Pemprov Bali membangun bandara baru, namun ini membutuhkan waktu mengingat harus dilakukan reklamasi.

Namun, ada langkah jangka pendek yang cukup smart, yakni memodifikasi runway bandara sehingga pesawat lebih cepat mendarat. Dengan begitu, jadwal penerbangan bisa ditambah. "Ini sudah dilakukan Bali, dan cukup berdampak," kata dia.
Pewarta :
Editor: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar