Bio Farma gandeng PTN percepat produksi obat dan vaksin

id Biofarma, kerjasama biofarma dengan MSA PTN-BH

Direktur Utama Bio Farma, M Rahman Roestan yang ditemui di sela-sela sidang paripurna MSA PTN-BH yang digelar di Hotel Claro Makassar, Sabtu (22-6-2019). (Foto: Nur Suhra Wardyah)

Makassar (ANTARA) - Bio Farma kini mulai menjalin kerja sama dengan 11 perguruan tinggi negeri yang tergabung dalam Majelis Senat Akademik (MSA) Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) sebagai upaya percepatan produksi obat dan vaksin melalui hilirisasi hasil inovasi riset terapan PTN di Indonesia.

"Nah, kami mengajak potensial research, terutama dari perguruan tinggi untuk sama-sama konsen dari awal riset penggunaan material yang tidak diragukan lagi hingga menghasilkan produk," ungkap Direktur Utama Bio Farma M. Rahman Roestan di Makassar.

Rahman menyebutkan keuntungan kerjasama dengan perguruan tinggi ialah karena institusi perguruan tinggi mempunyai potensial resercher yang banyak sehingga akan lebih mempercepat menghasilkan produk penelitian.

Jika riset atau penelitian dilakukan sendiri oleh Bio Farma, menurut dia, akan membutuhkan waktu panjang untuk melakukan tahapan praklinis dan uji klinis sendiri, bisa menghabiskan waktu sekitar 12 hingga 15 tahun.

"Untuk targetnya sendiri, belum ada dan tampak. Akan  tetapi, saya harapkan waktu lama ini hanya dipakai setengahnya, yah, minimalnya tujuh tahun. Insyaallah, kalau kami keroyokan melakukan risetnya," ungkapnya usai melakukan teken kerja sama letter of intent (LoI) dengan MSA PTN-BH.
Direktur Utama Bio Farma M. Rahman Roestan bersama pihak MSA PTN-BH saat hendak melakukan teken kerja sama letter of intent (LoI) dengan MSA PTN-BH di Hotel Claro Makassar, Sabtu (22-6-2019). (Foto: Nur Suhra Wardyah)
Selain itu, kebutuhan obat dinilai makin mendesak lantaran banyaknya bermunculan penyakit-penyakit baru. Untuk uji bioteknologi produk diharapkan bisa lebih cepat dengan campur tangan pihak kampus.

Alasannya, jika produk tidak cepat dibuat dan dihasilkan, lanjut dia, akan sangat berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Apalagi, Badan Kesehatan Dunia atau WHO juga telah merilis bahwa banyak penyakit yang belum ditemukan obatnya, seperti penyakit jantung dan penyakit menular.

"Paradigmanya tetap harus disamakan, artinya jangan hanya meneliti terkait dengan target jurnal, tetapi harus terkait dengan produk yang artinya ada beberapa aspek harus dipertimbangkan kalau sudah akhir hasil produk," kata dia.

Disebutkan, pertama ialah konsistensi materialnya continiuitasnya, aspek intelektualnya, profekirnya, kemudian komersialisasinya.

"Jadi, teman-teman perguruan tinggi akan sangat membantu dari awal riset, kalo aspek-aspek tadi sudah menjadi pertimbangan," ucapnya.

Terkait dengan hilirisasi, lanjut Rahman, ada beberapa aspek yang harus terlebih dahulu disampaikan, yakni mengajak dari awal para pengguna, terutama industri regulatornya, seperti dalam aspek obat-obatan dan makanan ialah dari Badan POM.

"Nah, alhamdulillah, rekan kami (panitia pelaksana) kemarin mengundang Badan POM. Jadi, memang kalau kami bicara bersama di forum riset, insyaallah, nanti syarat-syarat atau standar-standar yang dibutuhkan industri itu bisa diketahui dari awal," paparnya.

Menyinggung soal biaya riset, yang dianggap salah satu faktor diharapkan ada penyandang dana dari pemerintah dan kalangan lain, atau minimal memberikan kemudahan-kemudahan lain seperti pajak.

Pada pelaksanaannya, Rahman menyebutkan bahwa pihak Bio Farma menyediakan dana 4 s.d. 5 persen dari penjualan yang sudah dialokasikan untuk keperluan riset. Bahkan, dana tersebut telah disiapkan sebelum kerja sama dijalin.

"Jadi, memang ada dana yang disiapkan. Akan tetapi, 'kan riset mempunyai biaya tinggi dan lama. Jadi, kami memang harus kerja sama dengan yang terkait dengan permasalahan pemudahan pajak dan kemudahan regulasi," katanya.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar