Minyak turun tertekan data stok AS dan kekhawatiran permintaan

id Harga minyak,minyak Brent,minyak WTI,OPEC+

Ilustrasi - harga minyak turun. (ANTARANEWS/Ardika)

Calcgary, Alberta (ANTARA) - Harga minyak dunia bergerak di kisaran sempit menyusul libur hari kemerdekaan di Amerika Serikat, menjadi berakhir lebih rendah pada perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), tertekan oleh data yang menunjukkan penarikan persediaan minyak mentah AS lebih kecil dari perkiraan dan kekhawatiran tentang ekonomi global.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional untuk harga minyak, turun 52 sen atau 0,81 persen menjadi menetap pada 63,30 dolar AS per barel. Brent ditutup naik 2,3 persen pada perdagangan Rabu (4/7/2019).

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan harga minyak AS, turun 54 sen atau 0,94 persen menjadi 56,89 dolar AS per barel. WTI ditutup naik 1,9 persen pada perdagangan Rabu (4/7/2019).

Volume perdagangan ringan karena liburan 4 Juli di Amerika Serikat.

Pasar tampak sebagian besar tidak bergerak oleh penahanan kapal tangki super di Gibraltar oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris, yang kemungkinan membawa minyak mentah Iran menuju Suriah, ketika ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat telah berkobar karena serangan misterius terhadap tanker di Teluk Oman dalam beberapa bulan terakhir.

Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu (3/7/2019) melaporkan penurunan mingguan 1,1 juta barel dalam stok minyak mentahnya, jauh lebih kecil dari penarikan 5,0 juta barel yang dilaporkan oleh American Petroleum Institute (API) pada awal pekan ini.

"Data persediaan sama sekali tidak mendukung harga lebih tinggi: bukan hanya pengurangan persediaan minyak mentah terbukti lebih kecil dari yang diharapkan - itu juga jauh dari yang dilaporkan oleh API sehari sebelumnya," tulis Commerzbank dalam sebuah catatan kepada klien.

Persediaan AS turun lebih rendah dari yang diperkirakan karena kilang-kilang AS pekan lalu mengkonsumsi lebih sedikit minyak mentah dari minggu sebelumnya dan memproses minyak dua persen lebih sedikit dari setahun lalu, data EIA menunjukkan, meskipun berada di tengah-tengah musim permintaan bensin musim panas.

Itu menunjukkan permintaan minyak di Amerika Serikat, konsumen minyak mentah terbesar di dunia, bisa melambat di tengah tanda-tanda melemahnya ekonomi. Pesanan baru untuk barang-barang pabrik AS turun untuk bulan kedua berturut-turut pada Mei, data pemerintah menunjukkan pada Rabu (3/7/2019), menambah kekhawatiran ekonomi.

Data AS yang lemah, juga mengikuti laporan pertumbuhan bisnis yang lambat di Eropa bulan lalu.

"Mengesampingkan fluktuasi jangka pendek di sekitar data persediaan, mustahil untuk melarikan diri dari kenyataan ekonomi bahwa kita berada di tengah-tengah penurunan manufaktur global," kata Stephen Innes, mitra pelaksana, Vanguard Markets.

Namun, ketidakpastian atas permintaan sedikit diimbangi oleh prospek pasokan global.

Produksi akan tetap terbatas karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain seperti Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat pada Selasa (2/7/2019) untuk memperpanjang pengurangan produksi minyak hingga Maret 2020.
 
Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar