Logo Header Antaranews Makassar

Kajati Tinjau Kantin Kejujuran SD Bantaeng

Rabu, 17 Februari 2010 02:25 WIB
Image Print

Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) Adjad Sudrajat, SH, MM meninjau kantin kejujuran milik SD Negeri 5 Lembang Cina Kabupaten Bantaeng, Selasa.

Kajati bersama Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah, Ketua Ikatan Adyaksa Dharma Karini Ny Misdiati Adjad Sudrajat, Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sulsel H Patabai Pabokori dan sejumlah pejabat lainnya juga meninjau Kafe Kejujuran di sekolah tersebut.

Kadis Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Bantaeng Hj Sinasari mengatakan, kantin yang didirikan tahun 2007 itu bermodal awal Rp200 ribu dan kini sudah memiliki aset Rp10 jutaan (berupa barang dan mobiler).

Sebelum meninjau Kantin Kejujuran milik SD Negeri 5 Lembang Cina, Kajati Sulselbar yang juga didampingi Kajari Bantaeng Hj Nur Yalamlan Cayana membuka bimbingan teknis pelatihan manajemen pengelola Kantin Kejujuran SD, SMP, SMA, SMK se Kabupaten Bantaeng, Jeneponto dan Takalar yang dipusatkan di Bantaeng.

Adjad Sudrajat juga memberikan pengarahan di depan satuan kerja perangkat daerah (SKPD), Kepala Badan dan Kepala Kantor lingkup Pemda Kabupaten Bantaeng.

Kajati Sulselbar mengatakan, Kantin Kejujuran pada dasarnya sama dengan kantin lainnya yang sudah dikenal masyarakat yakni kantin yang menyiapkan fasilitas untuk kebutuhan konsumen.

Hanya saja, Kantin Kejujuran tidak memiliki pelayan, sedang kantin lain ada penjaga yang siap melayani setiap pelanggan yang datang. Pada Kantin Kejujuran, calon pembeli mengambil barang dan membayar sendiri (self service).

"Bila ada kelebihan uang yang dibelanjakan, konsumen juga mengambil sendiri. Tapi juga disiapkan kotak untuk sedekah," urainya seraya mengatakan, inti dari kehadiran Kantin Kejujuran adalah pembentukan watak.

"Meski tidak ada yang menjaga jalannya transaksi, namun anak-anak menyadari bahwa apa yang dilakukan diketahui oleh Tuhan dan dicatat malaikat," ujarnya. Itulah yang menyebabkan hingga kini belum ada Kantin Kejujuran di tingkat SD, SMP dan SMA yang merugi.

Ia kemudian mengemukakan sejumlah pengalaman saat bertugas di Banten. Ada barang yang hilang dan tidak ada dananya, tapi ada sepucuk surat di dalam kotak. Isi surat tersebut menyebutkan permohonan maaf karena tidak sempat sarapan dan tidak membawa uang, namun berjanji akan membayar besok.

Keesokan harinya, anak tersebut benar-benar memenuhi janjinya. Ini pertanda bahwa anak-anak memang jujur. Sebaliknya, ada kantin kejujuran untuk pegawai, hasilnya, tidak cukup sebulan sudah ambruk.

Karena itulah, kejujuran harus dibentuk sejak dini. Kita membangun watak jujur dengan harapan pada masa depan (mungkin 10-20 tahun ke depan) anak-anak tersebut sudah tampil menjadi pemimpin di negeri ini.

"Dengan gemblengan sikap jujur sekitar 12 tahun, mudah-mudahan mereka tampil menjadi pemimpin yang jujur," ujar Adjad Sudrajat seraya mengemukakan 4 katagori pemimpin yang baik yakni harus pintar (patona).

Tapi, pintar saja tidak cukup. Dia juga harus memiliki pendirian (istiqomah), jujur agar tidak terfikir pada penyalahgunaan jabatan, fasilitas dan lain-lain karena dia tahu segala yang dilakukan diketahui Allah dan dicatat malaikat dan yang keempat adalah tablik atau mampu menyampaikan apa adanya dan tidak melakukan persekongkolan, urainya.

Bila metode Kantin Kejujuran ini berhasil, ke depan diharapkan tak hanya memenuhi kebutuhan siswa tetapi juga kebutuhan rumah tangga siswa itu sendiri seperti beras, telur dan lainnya.
(T.KR-RY/F003)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026