Menteri LHK optimistis target 23 persen penggunaan EBT pada 2025 tercapai

id Energi baru terbarukan, batu bara, listrik, energi fosil,Ebt,klhk

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar memberikan sambutan pada kegiatan launching dokumen GGPR of Indonesia. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Angka 23 persen dalam catatan listrik sudah dicapai 11,7 persen, tetapi dalam catatan energi secara keseluruhan diperkirakan sudah mencapai 15 hingga 17 persen
Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Siti Nubaya Bakar optimistis target 23 persen penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dapat tercapai pada 2025.

"Angka 23 persen dalam catatan listrik sudah dicapai 11,7 persen, tetapi dalam catatan energi secara keseluruhan diperkirakan sudah mencapai 15 hingga 17 persen," kata dia, di Kantor KLHK Jakarta, Rabu.

Untuk kapasitas EBT saat ini yang terpasang sudah mencapai 9.761 megawatt dari 65.480 megawatt listrik nasional. Bahkan, penggunaan EBT  diperkirakan gas 22 persen, batu bara 54 persen dan BBM 0,4 persen pada 2030.

Penerapan EBT di Tanah Air juga mendapat dukungan penuh oleh Presiden pada rapat kabinet 8 Juli 2019 agar mulai fokus membangun energi di sektor tersebut.

Presiden, kata dia, menegaskan untuk mulai mengurangi penggunaan batu bara dan beralih ke EBT. Hal tersebut disambut gembira oleh KLHK sebagai penguatan di sisi lingkungan.

Pada pertemuan G20 Siti mengaku juga melakukan pembicaraan dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan terkait langkah atau upaya memajukan EBT dan mengurangi energi batu bara.

Di sisi perindustrian pemerintah juga mengintroduksi mobil listrik dengan pola kendaraan hemat energi terjangkau. Kemudian, Kementerian Keuangan juga memberikan subsidi sebesar Rp500.000 per ton kepada pemerintah daerah yang bisa membangun listrik tenaga sampah.

Sedangkan di KLHK, ujar dia, pemerintah  berupaya menggenjot penanganan mangrove untuk 'low carbon development'. Karena Indonesia merupakan pemilik hutan mangrove terbesar di dunia seluas 3,7 juta hektare.

"Kira-kira 1,1 juta kritis dan botak-botak, kita akan intensifkan, hal ini juga sudah dibicarakan dengan Jepang, Norwegia Inggris, Jerman dan Australia," ujarnya.

Sebelumnya, praktisi minyak dan gas (Migas) nasional, Tumbur Parlindungan mengatakan EBT hingga kini masih bersifat pendukung atau pelengkap dari penggunaan energi fosil.

"Energi terbarukan bukan pengganti ya, tapi sebagai energi komplementer," kata dia.

Ia menjelaskan disebut sebagai energi komplementer dikarenakan keberlangsungannya tidak bisa terus dijaga. Sebagai contoh pemanfaatan energi matahari.

"Siapa yang bisa menjamin matahari besok tidak boleh mendung atau angin harus selalu kencang terus," katanya.
Pewarta :
Editor: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar