Kebakaran lahan di Aceh Barat makin meluas dan sulit diatasi

id Karhutla di Aceh Barat,BPBD,SAR

Warga melihat suasana kebakaran lahan gambut di Desa Kuta Padang, Kecamatan Bubon, Aceh Barat, Aceh, Jumat (12/7/2019). Menurut keterangan warga setempat, kebakaran yang terjadi sejak sepekan terakhir menghanguskan sekitar 90 hektare lahan perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet milik warga di Kecamatan Woyla Barat dan Kecamatan Bubon dan terus meluas. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Meulaboh (ANTARA) - Kebakaran lahan yang terjadi di Kabupaten Aceh Barat sejak satu pekan terakhir semakin meluas mencapai diatas 50 hektare dan masih sulit diatasi, karena banyaknya lokasi kebakaran lahan yang muncul akibat musim kemarau.

Hingga Jumat (12/7) malam, sebaran kebakaran lahan di daerah ini sudah mencapai empat kecamatan meliputi Arongan Lambalek, Woyla Barat, Meureubo, serta Kecamatan Johan Pahlawan.

"Sampai saat ini, upaya pemadaman api masih terus dilakukan petugas. Karena titik api semakin bermunculan akibat musim kemarau seperti yang terjadi saat ini," kata Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Dr Mukhtaruddin melalui Koordinator Pusdalops setempat, Mashuri di Meulaboh, Jumat malam.

Ada pun kendala yang dihadapi petugas saat berusaha memadamkan api, tambah dia yakni sulitnya mendapatkan sumber air di sekitar lokasi kebakaran karena beberapa desa di daerah ini turut mengalami kekeringan.

Untuk bisa mendapatkan sumber air terdekat dari lokasi kebakaran, petugas BPBD bersama TNI, Polri dan masyarakat terpaksa mencari sumber air di kawasan yang berjarak sekitar dua kilometer dari lokasi pemadaman.

Mashuri mengakui meski di beberapa lokasi kebakaran lahan telah berhasil dipadamkan, namun karena teriknya matahari juga menyebabkan timbulnya titik api di lokasi baru, sehingga membutuhkan ekstra tenaga agar bisa dilakukan pemadaman.

"Sampai saat ini kami masih terus melakukan pendataan untuk memastikan luas lahan yang sudah terbakar di Aceh Barat, yang pasti luasnya sudah lebih diatas 50 hektare," tambahnya.
Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar