Pelaku pasar nilai positif peninjauan reksa dana investor tunggal oleh OJK

id OJK,reksa dana,investor tunggal

Pelaku pasar nilai positif peninjauan reksa dana investor tunggal oleh OJK

Reksa dana. (Ist) (Ist/)

Jakarta (ANTARA) - Pelaku pasar modal menilai positif peninjauan produk investasi reksa dana investor tunggal oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai salah satu bentuk pengawasan industri.



"Memang OJK harusnya juga seperti itu dalam rangka menjaga iklim investasi yang sehat," ujar Direktur Utama PT Foster Asset Management Andreas Yasakasih ketika dihubungi Antara di Jakarta, Jumat.



Ia mengatakan kepemilikan investor tunggal pada produk reksa dana bukanlah hal baru, produk itu sudah ada sejak 2007-2008 lalu. Produk itu bisa dimiliki secara eksklusif atau satu investor saja.



"Beberapa investor memang ingin investasi yang ekslusif, itu tidak masalah asalkan dana dalam produk reksa dana investor tunggal itu underlying-nya bukan yang dimiliki oleh nasabah, atau back to back," katanya.



Menurut dia, reksa dana investor tunggal yang aset dasarnya hanya terdapat aset yang dimiliki oleh nasabah berpotensi membuat pasar menjadi tidak wajar.



"Kalau investor tunggal tapi underlying-nya saham-saham bluechip dan terdiversifikasi juga tidak akan apa-apa bagi pasar," ucapnya.



Reksa dana merupakan wadah untuk menghimpun dana dari investor ritel maupun institusi. Dana yang telah terkumpul dalam wadah itu akan diinvestasikan oleh perusahaan Manajer Investasi ke beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.



Sebelumnya, Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal 2 OJK Fakhri Hilmi mengatakan instrumen reksa dana investor tunggal mulai muncul sejak periode 2007-2008 dan terus bertambah seiring waktu berjalan.



"Awalnya hanya ada 1-2 reksadana, ternyata terus bertambah hingga saat ini. Karena itu kami akan dalami fenomena itu sebagai bentuk pengawasan," katanya.



Berdasarkan data Direktorat Pengelolaan lnvestasi per 27 Agustus 2019, terdapat 2.158 reksa dana dengan nilai dana kelolaan mencapai Rp536,52 triliun.



Dari jumlah itu, diketahui terdapat reksa dana yang dimiliki oleh investor tunggal mencapai 689 reksa dana dengan total dana kelolaan sebesar Rp190,82 triliun.



Adapun 621 reksa dana di antaranya merupakan reksa dana investor tunggal dengan portofolio investasi lebih dari satu efek (non tunggal) dengan total dana kelolaan mencapai Rp181,38 triliun, sedangkan 68 reksa dana lainnya merupakan reksa dana yang dimiliki oleh investor tunggal dengan portofolio investasi tunggal (satu efek) dengan total dana kelolaan mencapai Rp9,44 triliun.



Fakhri mengatakan bahwa tujuan dari peninjauan banyaknya jumlah produk reksa dana investor tunggal itu adalah untuk membatasi perluasan eksposur risiko dalam pengelolaan investasi.



"Apakah fenomena itu positif atau negatif? Kami sedang dalami, masih terlalu dini menilainya, kami cuma sampaikan data yang menarik untuk didalami," ucapnya.

Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar