Logo Header Antaranews Makassar

Tujuh Investor Siap Bangun Pembangkit Llistrik di Sulsel

Selasa, 30 Maret 2010 14:07 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA News) - Sebanyak tujuh investor di Sulawesi Selatan mengaku siap menanamkan modalnya untuk membangun pembangkit listrik di Sulsel.

Hal ini terungkap dalam diskusi kelistrikan yang menghadirkan General Manager PT. PLN Sultanbatara (Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara) Ahmad Siang, Kepala Biro Mandiri LKBN Antara Sulsel Fredrich C. Kuen, Pengurus Kadin Sulsel La Tunreng, dan Kabid Pengendalian BKPMD Sulsel Yos Harmen di Makassar, Senin.

General Manager PT. PLN Sultanbatara Ahmad Siang menjamin, permasalahan kelistrikan di Sulsel akan segera berakhir dalam kurun waktu tiga tahun mendatang.

Dia mengaku pihaknya telah membuka peluang bagi investor yang ingin masuk di sektor kelistrikan, apalagi selama ini PLN masih kekurangan banyak pasokan listrik.

"Tertanggal 31 Maret 2010, PLN sudah berkomitmen untuk tidak akan ada lagi pemadaman bergilir, yang sebenarnya sudah dimulai sejak 14 hari yang lalu," tegas dia.

Terkait kelebihan pasokan listrik nanti, dia kembali mengakui kalau PLN sedikit pesimis apakah nantinya PLN bisa menjual listrik yang tersedia atau tidak.

"Walaupun PLN sendiri juga sudah menargetkan hingga 2014 nanti, akan ada sekitar 50.000 pelanggan baru," ujar Ahmad.

Namun dengan jajaran direksi PLN Sultanbatara yang sekarang, PLN mengaku sudah berkomitmen untuk terus melayani masyarakat dengan sebaik mungkin, sehingga tidak akan ada lagi pemadaman bergilir di tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, data Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulsel menyebutkan, tujuh investor itu dipastikan sudah mengantongi izin pembangunan pembangkit listrik, dengan total kapasitas produksi kurang lebih 690 MW.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pengawasan BKPMD Sulsel, Yos Harmen, mengaku baru dua investor diantaranya yang sudah secara penuh merealisasikan investasi itu dengan kapasitas pembangkit sebesar 195 MW.

"Saat ini dua perusahaan swasta itu telah menjajaki penambahan kapasitas produksi sebesar 220 MW, yaitu PLTG 2x 60 MW, dan PLTA 100 MW, yang diharapkan terealisasi dalam tiga tahun mendatang," tutur dia.

Menurut dia, ketujuh investor bidang kelistrikan itu diperkirakan mampu menanamkan modal sekitar Rp6,9 triliun.

"Jika semua proyek investasi swasta itu terealisasi, diperkirakan Sulsel nanti akan kelebihan pasokan listrik yang cukup besar dalam tiga tahun," ucap dia.

Adapun tujuh investor tersebut, lanjutnya, PT Energy Sengkang dengan nilai investasi 221 juta dolar AS, PT Makassar Power 70 juta dolar AS, PT Malea Rp882 miliar, dan PT Sulawesi Mini Hydro 2,5 juta dolar AS. Selanjutnya ada PT Bosowa Energy yang bernilai investasi Rp1,74 triliun, PT Fajar Futura Energi Rp40,8 miliar, dan PT Kassa Listrindo Rp1,2 triliun.

Sejumlah PMA (penanaman modal asing) lainnya yang akan menanamkan modalnya di Sulsel diantaranya PT Energy Sengkang, PT Makassar Power, dan PT Sulawesi Mini Hydro dan ditambah PMDN (Penanaman modal dalam negeri) yang tengah dalam proses perampungan saat ini.

Dia menuturkan baru terealisasinya dua investasi pembangkit listrik, dari tujuh perusahaan pembangkit yang ada, selain karena hambatan di internal perusahaannya sendiri, juga belum adanya kesepakatan harga beli listrik oleh pihak PLN.

Padahal, kata dia, BKPMD Sulsel sudah memberikan fasilitas penanaman modal kepada para investor pembangkit listrik tersebut, agar gerak mereka lebih leluasa.

"BKPMD selama ini memberikan kemudahan kepada investor yakni bebas Ppn untuk impor mesin sekitar 10 persen hingga 0 persen, dan bebas bea masuk impor mesin 5 persen hingga 0 persen," ujar dia.

Selain itu juga tambah dia, BKPMD sudah melakukan pengurangan Pph 22 sebesar 7,5 persen hingga 2,5 persen, pengurangan PBB 50 persen selama 8 hingga 10 tahun, serta kemudahan penggunaaan tenaga kerja asing.

"Tapi entah kenapa hingga sekarang masih ada lima investor pembangkit listrik yang belum juga merealiasasikan pembangunan pembangkit listriknya," tukas dia.
(T.KR-HK/M012)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026