Petani jagung di Magetan rugi karena gagal panen

id petani jagung,jagung magetan,gagal panen,musim kemarau,kekeringan

Petani jagung di Magetan rugi karena gagal panen

Ilustrasi - Buruh tani mengemas jagung manis ke dalam karung usai dipetik di area persawahan Desa Bringin, Kediri, Jawa Timur, Selasa (8/5). Petani di daerah tersebut mengaku lebih untung menanam jagung manis (jagung sayur) karena masa panen lebih cepat dari pada jagung pakan ternak (jagung kering) dan dengan harga jual relatif stabil pada kisaran harga Rp2.000 per kilogram. Antara Jatim/Prasetia Fauzani/zk/18

Magetan (ANTARA) - Para petani jagung di Desa Tamanarum, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur merugi hingga jutaan rupiah karena tancaman gagal panen yang dialami pada musim kemarau kali ini.

Seorang petani jagung setempat, Lamidi, Jumat, mengatakan ancaman gagal panen tersebut terjadi setelah tanaman jagung di wilayahnya rusak akibat kurang air.

"Tanaman jagung yang sudah berumur dua bulan semuanya layu dan mengering karena tidak mendapatkan pasokan air yang memadai," ujar Lamidi kepada wartawan di Magetan.

Menurut dia, karena kekurangan air, maka pertumbuhan tanaman jagungnya tidak maksimal. Meskipun ada tongkol jagungnya, namun tetap tidak bisa berisi alias kopong.

Biasanya para petani setempat mengandalkan air dari Waduk Gonggang di Poncol Magetan untuk irigasi. Namun, karena musim kemarau, debit air waduk terus menyusut dan tidak maksimal untuk pengairan.

Para petani tidak bisa berbuat banyak menyikapi kondisi alam tersebut. Ia hanya mampu menyelamatkan sebagian jagungnya yang bisa dimanfaatkan meski dengan kualitas yang buruk.

"Sedangkan, jagung yang tidak bisa dipanen maka terpaksa akan dibuat untuk pakan ternak," kata dia.

Lamidi menambahkan, pihaknya sengaja menanam jagung karena pada musim kemarau lahannya tidak dapat ditanami padi akibat pasokan air yang minim.

Ia menilai musim kemarau tahun ini tergolong parah. Sebab tanaman palawija jagungnya tidak bisa bertahan karena cuaca terlalu panas.

Selain jagung, tanaman kacang tanah di wilayah setempat juga terancam mati karena kekurangan air. Meskipun bisa dipanen, namun biji kacang tidak berbuah maksimal karena minim pengairan semasa tumbuhnya.
 
Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar