30 pekerja asal Tasikmalaya dapat pelatihan bahasa dan budaya Jepang

id Disnaker Tasikmalaya, migran, jepang, kota Tasikmalaya

30 pekerja asal Tasikmalaya dapat pelatihan bahasa dan budaya Jepang

Sejumlah calon pekerja mengikuti pelatihan bahasa di Kantor BI Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (30/09/2019). (ANTARA/HO Disnaker Kota Tasikmalaya)

Tasikmalaya (ANTARA) - Sebanyak 30 calon pekerja asal Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mendapat pelatihan bahasa dan budaya Jepang sebagai bekal yang harus dimiliki sebelum berangkat menjadi pekerja migran di Jepang agar dapat bekerja dengan baik.

"Sekarang ada 30 orang dan pelatihan ini baru pertama kali," kata Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Tasikmalaya, Rahmat Mahmuda kepada wartawan di Tasikmalaya, Senin.

Ia menuturkan, pelatihan bahasa dan budaya Jepang itu bekerjasama dengan Kantor Bank Indonesia Tasikmalaya sebagai upaya memberikan pengetahuan kepada calon pekerja dalam menghadapi perbedaan lingkungan di Jepang.

Mereka calon pekerja migran Jepang itu, kata dia, telah melewati tahapan seleksi yang ketat hingga akhirnya siap diberangkatkan untuk memenuhi kebutuhan pekerja keterampilan khusus yakni keahlian medis di Jepang.

"Kebutuhan buruh migran ke Jepang setiap tahunnya seribu orang, namun Kota Tasikmalaya baru memenuhi kuota di bawah 100 orang," katanya.

Ia menyampaikan, Disnaker Kota Tasikmalaya ke depan akan berusaha meningkatkan keikutsertaan pemuda Tasikmalaya untuk ikut program bekerja ke Jepang.

Ia berharap, pada program pengiriman pekerja migran asal Tasikmalaya ke Jepang bisa mencapai lebih dari seratus orang tanpa mengabaikan proses seleksi yang ketat.

"Minimal ada 100 orang yang akan berangkat berikutnya," kata Rahmat.

Ketua Kantor Perwakilan BI Tasikmalaya Heru Saptaji mengatakan, BI Tasikmalaya mendukung adanya program pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang diselenggarakan Disnaker Kota Tasikmalaya.

Menurut dia, pelatihan itu untuk mematangkan kesiapan para calon pekerja migran sebelum berangkat dan bekerja di Jepang yang budaya dan bahasanya banyak perbedaan dengan Indonesia.

"Di sini kita ajarkan keterampilan tambahan berupa bahasa, kemudian ada tata krama dan budaya Jepang," katanya.
Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar