PLN bidik industri makro dan mikro di Sultra

id PLN Sultra, SPJBTL Sultra

PLN bidik industri makro dan mikro di Sultra

Penandatanganan SPJBTL PT Ceria Nugraha Indotama dengan PLN Sultra setelah sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbangsel) dan Sulawesi Tenggara (Sultra) telah terinterkoneksi, ditandai dengan tersambungnya ruas transmisi antara Malilili dan Lasusua pada 19 September lalu. ANTARA Foto/HO-Humas PLN

Makassar (ANTARA) - General Manager PLN UIW Sulselrabar, Ismail Deu menjelaskan saat ini PLN siap melayani kebutuhan listrik investor di Sulawesi Tenggara dengan membidik industri makro dan mikro.

"Kami siap melayani investor kapanpun, dimanapun, dan berapapun dayanya," pungkas Ismail di Makassar, Kamis.

Hal tersebut dikatakan bukan tanpa alasan, mengingat sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbangsel) dan Sulawesi Tenggara (Sultra) telah terinterkoneksi, ditandai dengan tersambungnya ruas transmisi antara Malilili dan Lasusua pada 19 September lalu.

Dengan terinterkoneksinya kedua sistem ini, maka daya mampu yang dapat dievakuasi dari sistem Sulsel ke Sultra sebesar 400 MW, sehingga hal tersebut membuka peluang investasi bisnis dari pelanggan Industri di Provinsi Sultra.

Ismail Deu menambahkan dengan interkoneksi ini keandalan sistem meningkat. "Interkoneksi ini memberi peluang kepada investor untuk berinvestasi tanpa khawatir akan pasokan energi listrik," tegas Ismail.

Alhasil, PT Ceria Nugraha Indotama, sebuah perusahaan tambang yang memiliki smelter nikel telah menandatangani Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) layanan khusus Premium Platinum bersama PLN Unit Induk Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat (UIW Sulselrabar) dengan daya 350 MVA pada 1 Oktober.

Selain sektor Industri makro, PLN juga menyasar pelanggan Industri Mikro di Sultra, salah satunya konversi energi dari genset ke listrik daya 197 kVA oleh pengusaha penggilingan padi UD Sinar Swastika di Kabupaten Konawe.

"Keuntungan yang didapatkan adalah tidak ada biaya untuk pembelian solar dan pemeliharaan material karena genset sudah di nonaktifkan," kata Pemilik Usaha, Ketut Swastika.

Dengan konversi tersebut pelanggan dapat menghemat biaya produksi sebesar 30 - 50 persen setelah beralih menggunakan listrik.

Rasio Elektrifikasi di Sulawesi Tenggara sudah mencapai 97,12persen serta proyeksi pertumbuhan pelanggan besar di Sulawesi Tenggara pada tahun 2025 adalah sebesar 710 MW.

Sampai dengan saat ini, ada empat pelanggan industri yang sudah menandatangani SPJBTL di Provinsi Sulawesi Tenggara dengan keseluruhan total daya sebesar 634 MVA.
 
Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar