Kelompok BKL Kabupaten Gowa dibentuk dari keluarga lansia

id BKL, DPPKB Gowa,lansia

Kelompok BKL Kabupaten Gowa dibentuk dari keluarga lansia

Foto bersama Kelompok Bina Kelompok Lansia (BKL) kabupaten Gowa dengan Kepala DPPKB Kabupaten Gowa, Sofyan Daud di Gowa, Jumat (18/10/2019). ANTARA/Humas Gowa

Makassar (ANTARA) - Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Gowa, Sulsel, H. Ahmad menyampaikan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) Gowa akan dibentuk dari keluarga para lansia (lanjut usia) untuk memenuhi kebutuhan BKL di tempat itu.

"Kita masih terkendala kelompok pembinaan, makanya ke depan keluarga si lansia ini akan kita berikan pemahaman untuk menjadi pengurus BKL. Paling tidak mereka yang langsung memberikan pembinaan kepada keluarganya yang lansia," jelasnya di Gowa, Jumat.

Tercatat dari 27 Kampung KB yang ada di Kabupaten Gowa hanya 189 BKL yang turun ke lapangan, sementara secara rasio dari jumlah tersebut harusnya dibutuhkan 2.329 BKL karena 1 BKL hanya dapat membina secara maksimal 30 keluarga lansia.

Oleh karena itu, DPPKB Kabupaten Gowa memberikan perhatian penuh pada penduduk lansia dengan mendorong peran kelompok BKL di seluruh Kampung KB yang ada di wilayah itu.
DPPKB Gowa berperan memberikan pembinaan dengan pendekatan keluarga si lansia.

"Polanya, yaitu dengan melakukan pembinaan keluarga si lansia agar bagaimana mereka memperlakukan lansia itu dengan baik sehingga dapat tercipta individu lansia yang tangguh dan produktif," ungkapnya.

Sementara Kepala DPPKB Kabupaten Gowa, Sofyan Daud menyebutkan, dari jumlah penduduk di Kabupaten Gowa sebanyak 755.235 jiwa, sekitar 9,34 persen adalah penduduk lansia atau sebanyak 68.870.

"Ke depan kita ingin menciptakan lansia yang tangguh dan produktif khususnya di wilayah Kampung KB melalui pembinaan yang lebih maksimal dengan membangun koordinasi lintas sektoral," katanya.

Kata Sofyan, pola pembinaan yang dilakukan DPPKB Gowa berbeda dengan stakeholder lainnya. Misalnya, jika Dinas Kesehatan menyentuh langsung pada individu lansia. Apalagi, jika hal tersebut membahas terkait kesehatan dan Dinas Sosial bertanggungjawab jawab.

"Pada umumnya kebanyakan lansia itu terlalu aktif karena terbiasa kerja produktif, makanya dengan keaktifannya ini harus kita manfaatkan. Paling tidak dengan memberikan keterampilan sesuai umurnya," terang Sofyan.

Menurutnya, perlunya didorong produktivitas lansia ini agar semakin membantu mewujudkan kemajuan daerah. Semakin maju suatu daerah itu maka jumlah lansianya semakin meningkat karena semakin lama harapan hidup mereka.

"Jika status gizi, status kesehatan hingga status kesejahteraan lansia sudah bagus maka semakin lama mereka hidup," ujarnya.

Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar