Sekprov sebut ekonomi Sulbar dipacu industri kelapa sawit

id muhammad idris,sekprov sulbar,cpo,pacu ekonomi sulbar,sawit,la ode asrul,pakar pertanian unhas

Sekprov sebut ekonomi Sulbar dipacu industri kelapa sawit

Sekretaris Provinsi Sulawesi Barat Muhammad Idris (tengah) pada seminar peningkatan kompetensi wartawan dan humas pemerintah tentang industri kelapa sawit Indonesia, yang digelar di Hotel Maleo, Mamuju, Kamis (14/11/2019). (Foto Istimewa)

Mamuju (ANTARA) - Sekretaris Provinsi Sulawesi Barat Muhammad Idris menyebutkan bahwa ekonomi daerah itu dipacu oleh industri sawit atau minyak kelapa sawit (CPO).

"Jika ingin menghentikan perekonomian Sulbar, sebenarnya mudah saja. Hentikan perkembangan industri kelapa sawit," kata Muhammad Idris, pada seminar peningkatan kompetensi wartawan dan humas pemerintah tentang industri kelapa sawit Indonesia, yang digelar di Hotel Maleo, Mamuju, Kamis.

Industri kelapa sawit mulai menjadi penggerak dan penopang ekonomi di Sulawesi Barat sejak tahun 1987, melalui program perkebunan Inti Rakyat atau PIR-Trans.

Berdasarkan data yang ditunjukkan oleh Dinas Perkebunan Sulawesi Barat, hingga 2018 jumlah perusahaan kelapa sawit di Sulbar mencapai 17 perusahaan dengan luasan lahan perkebunan mencapai 79 ribu hektare.

Industri kelapa sawit juga berperan penting dalam menciptakan lapangan pekerjaan, terutama bagi masyarakat dengan jenjang pendidikan yang rendah.

Hingga saat ini sawit telah menggantikan peran komoditas karet yang sebelumnya mendominasi perekonomian di Sulbar.

Sekretaris Provinsi Sulbar mengatakan, hadirnya komoditas-komoditas lain, tidak mengecilkan peran industri kelapa sawit di daerah itu.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah mendukung dan mendorong pembangunan industri sawit di Sulbar.

Hal itu tambah Sekprov, dibuktikan dengan dibentuknya struktur khusus dalam instansi Dinas Perkebunan untuk memfokuskan perkembangan sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit.

Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 12 tahun 2019, Pemerintah Provinsi Sulbar juga akan meningkatkan kolaborasi pemangku kepentingan untuk memperkuat data-data yang akan mendukung dan menjadi dasar untuk perkembangan industri.

"Di sisi lain, tantangan yang di hadapi pelaku industri kelapa sawit Sulbar terutama petani, adalah produktivitas kebun kelapa sawit," ujar Muhammad Idris.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar Prof Dr Laode Asrul memberikan pemaparan ) pada seminar peningkatan kompetensi wartawan dan humas pemerintah tentang industri kelapa sawit Indonesia di Hotel Maleo, Mamuju, Kamis (14/11/2019). (Foto Istimewa)
Sementara, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar Prof Dr Laode Asrul memaparkan, hal-hal yang mempengaruhi rendahnya produktivitas kelapa sawit, di antaranya bibit palsu.

Lebih lanjut Laode menjelaskan, satu juta hektare lahan perkebunan sawit di Indonesia, masih menggunakan bibit yang tidak bersetifikat (bibit palsu) sehingga mempengaruhi produktivitas.

Ia menyampaikan, rata-rata produktivitas kebun kelapa sawit Indonesia hanya 3,6 ton/hektare per tahun, sementara lembaga riset mengungkapkan potensi produksi kelapa sawit bisa mencapai 7-9 ton/hektare per tahun sehingga kurang memuaskan.

Dari segi "good agricultural practices" lanjutnya, petani cenderung belum mengimplementasikan "best management practices" yang sebenarnya dapat mendongkrak produktivitas sawit.

"Adanya defisiensi hara pada tanah dan defisiensi pupuk terutama pasca masa panen merupakan masalah yang sering terjadi pada perkebunan rakyat," ujar Laode.

Ia mengungkapkan, Sulbar dapat memaksimalkan potensi ekonomi di industri kelapa sawit, kemudian mengharapkan agar riset juga dapat ditingkatkan sehingga dapat memaksimalkan produktivitas dan potensi-potensi lain dari industri perkebunan kelapa sawit.
 
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar