KBRI Kuala Lumpur bantu anak pekerja migran dapat akses pendidikan

id pendidikan anak tki,anak pekerja migran,KBRI Kuala Lumpur

KBRI Kuala Lumpur  bantu anak pekerja migran dapat akses pendidikan

Fasilitas pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Derawan, Bintulu, Malaysia, yang disiapkan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit.  (ANTARA/Slamet Ardiansyah)

Sarawak (ANTARA) - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur membantu anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia mendapat akses pendidikan.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur Mokhammad Farid Maruf mengatakan bahwa izin dari pemerintah Malaysia saat ini baru mencakup pendirian fasilitas pendidikan bagi anak pekerja migran Indonesia di Sabah dan Sarawak.

"Saat ini wilayah yang baru mendapatkan izin dari pemerintah Malaysia yakni Sabah dan Sarawak. KBRI sebagai fasilitator bersama Kemendikbud," katanya di Bintulu, Sarawak, Minggu.

Ia mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengirim guru-guru ke wilayah Sabah dan Sarawak. Dalam satu tahun ada sekitar 300 guru yang dikirim ke sana.

"Kemudian untuk guru pamong, yakni orang Indonesia yang berada di Malaysia yang sebelumnya tidak menjadi guru, ada sekitar 400 orang. Terhadap guru pamong tersebut KBRI Kuala Lumpur terus memberikan pelatihan," katanya.

KBRI Kuala Lumpur, menurut dia, sedang mengusahakan perizinan pendirian fasilitas pendidikan bagi anak Indonesia di wilayah semenanjung Malaysia, termasuk izin pendirian pusat belajar komunitas (Community Learning Center/CLC).

Ia mengatakan bahwa di wilayah Sabah dan Sarawak hampir semua anak pekerja migran Indonesia berada di wilayah perkebunan sehingga mudah dijangkau, sedang di wilayah semenanjung hampir 90 persen anak pekerja migran tersebar di kota-kota yang berbeda.

"Pendidikan akan selalu menjadi pekerjaan rumah bagi KBRI Kuala Lumpur karena jumlah siswa akan terus bertambah. Kenyataannya kebanyakan pekerja tidak memiliki dokumen sehingga enggan menyekolahkan anaknya," katanya.

CLC Sabah dan Sarawak

"CLC saat ini berada di wilayah Sabah sekitar 340. Secara pengelolaan CLC juga masuk ke dalam Dapodik. Sekolah Indonesia di Kinabalu merupakan induk sekolah Indonesia, namun karena wilayah yang luas akhirnya dipecah menjadi CLC," kata Mokhammad Farid.

"Di wilayah Sabah juga telah disetujui penyelenggaraan pendidikan hingga 15 tahun. Namun di wilayah Sarawak baru dua tahun belakangan diperbolehkan pendidikan hingga jenjang SMP," katanya

Ia menjelaskan bahwa jumlah CLC di wilayah Sabah dan Sarawak total 370 dengan jumlah siswa sekitar 12.000. 

Selanjutnya, ia mengatakan, CLC kembali di pecah menjadi tempat-tempat kegiatan belajar (TKB) untuk mempermudah kegiatan belajar mengajar.

"Ada juga yang mengikuti program Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) atau program kejar paket yang diikuti sekitar 12.000 hingga 14.000 orang. Jadi total sekitar 27.000 jiwa yang bersekolah di jenjang SD dan SMP di wilayah Sabah dan Sarawak," katanya.

Siswa yang telah lulus SMP, ia mengatakan, akan dipulangkan ke Indonesia untuk menempuh pendidikan lanjutan. Agustus lalu KBRI Kuala Lumpur mengirim 620 siswa untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia dan 500 di antaranya mendapatkan beasiswa dari pemerintah.

Setelah lulus SMA di Indonesia, anak pekerja migran bisa mendapatkan beasiswa dari pemerintah untuk belajar di perguruan tinggi. Tahun ini ada ada 120 anak pekerja migran Indonesia yang bisa masuk perguruan tinggi dan 148 anak yang mendapatkan beasiswa Bidikmisi dari pemerintah.

Mokhammad Farid mengatakan bahwa beberapa alumni CLC juga yang mendapatkan beasiswa belajar ke China serta mengikuti pendidikan pilot dan pramugari.

 
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar