
Kebangkitan Nasional Perlu Dimaknai Kebangkitan Generasi

Makassar (ANTARA News) - Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-102 2010 perlu dimaknai dengan kebangkitan generasi yang mampu membawa bangsa dan negara keluar dari berbagai bentuk krisis.
"Kebangkitan nasional harus dimaknai dengan menyiapkan generasi yang mampu membawa bangsa dan negara keluar dari segala bentuk krisis," kata Badan Pekerja Lembaga Studi Kebijakan Publik (LSKP) Makassar Salma Ruslan di Makassar, Kamis.
Dia mengatakan, saat ini bangsa dan negara mengalami banyak krisis terutama krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan yang banyak memunculkan sejumlah kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
"Banyak kasus yang masih menggantung seperti kasus Bank Century, polemik di tubuh Polri, perang terhadap aksi terorisme dan sebagainya," katanya.
Menurut dia, kasus yang masih berlarut-larut dan berkepanjangan itu tanpa ada penyelesaian yang jelas, secara perlahan-lahan akan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan dewasa ini.
Karena itu, ia mengimbau, agar kasus-kasus yang merugikan publik, harus segera dituntaskan. Di sisi lain, pemerintah dengan dukungan masyarakat juga mempersiapkan generasi yang handal untuk menjadi pemimpin masa depan.
Sementara itu, akademisi dari Universtas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Hadawiah mengatakan, pembentukan generasi yang handal harus dimulai dari sektor pendidikan, mulai dari rumah tangga hingga pendidikan formal di sekolah.
"Pendidikan usia dini untuk pengenalan karakter bangsa sangatlah penting, sebagai pondasi menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga ke depan tidak ada lagi generasi muda yang ditemukan tawuran di jalan, di sekolah atau kampus mereka," katanya.
Generasi yang diharapkan ke depan, lanjutnya, generasi yang berprestasi dan mampu mengatasi segala bentuk krisis, termasuk memiliki daya saing tinggi di dunia internasional. (T.S036/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
