Ekonomi Sulsel triwulan III 2019 tumbuh 7,21 persen

id Ekonomi Sulsel Triwulan III Tumbuh 7,21 Persen,yos rusdiansyah

Ekonomi Sulsel triwulan III  2019 tumbuh 7,21 persen

Kepala BPS Sulsel Yos Rusdiansyah (kiri) didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulsel Akmal (kanan) saat merilis data statistik November 2019, Senin (2/12/2019). ANTARA/Muh Hasanuddin

Makassar (ANTARA) - Pertumbuhan perekonomian Sulawesi Selatan pada triwulan III-2019 tumbuh cukup bagus di angka 7,21 persen dibandingkan triwulan II-2019 karena ditopang perbaikan  di berbagai sektor.

"Secara q-to-q pertumbuhannya itu 7,21 persen dari triwulan II ke triwulan III-2019. Pertumbuhannya ini ditopang oleh beberapa perbaikan dan pembangunan infrastruktur," ujar Kepala BPS Sulsel Yos Rusdiansyah di Makassar, Senin.

Ia mengatakan perekonomian Sulsel berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas harga berlaku triwulan III 2019 mencapai Rp134,02 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 87,30 triliun.

Sedangkan secara kumulatif, ekonomi Sulsel hingga triwulan III 2019 tumbuh 7,08 persen dengan PDRB harga berlaku senilai Rp379,30 triliun. Menurut Yos, dari capaian pertumbuhan tersebut dapat diprediksi pertumbuhan ekonomi Sulsel di tahun 2019 akan lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2018 lalu.

"Pertumbuhan ekonomi Sulsel di tahun 2019 akan melebihi di tahun 2018, itu jika semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala yang mencolok, yang mempengaruhi ekonomi Sulsel," katanya.

Ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Sulsel di triwulan III 2019 menurut lapangan usaha masih ditopang oleh Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan struktur PDRB sebesar 22,71 persen.

Meski laju pertumbuhan sektor ini di triwulan III 2019 cenderung melambat yakni hanya sebesar 3,19 persen saja. Padahal, pertumbuhan di periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 5,25 persen.

Perlambatan itu dipicu oleh fenomena musim kemarau yang melanda sebagian besar daerah di Sulsel sehingga menyebabkan gagal panen.

"Pertanian perikanan dan kehutanan terjadi perlambatan 3,19 persen, sebelumnya di tahun 2018 5,25 persen. Fenomena ini salah satu penyebabnya musim kering yang cukup panjang sehingga beberapa daerah yang sebagian daerah merupakan lahan sawah adalah tadah hujan sehingga turut mempengaruhi tanaman pangan," ucapnya.

 
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar