
Abalon Sulsel Kurang Diminati Masyarakat Pesisir

Jeneponto, Sulsel (ANTARA News) - Kerang laut Abalon yang dikenal dengan sebutan kerang mata tujuh atau mata tiga masih kurang diminati masyarakat pesisir di Sulawesi Selatan.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Sulkaf S Latief di Jeneponto, Minggu, mengatakan kerang lunak abalon yang biasa dikenal dengan istilah "rappe-rappe" ini masih memiliki produksi yang sangat kecil.
"Produksi abalon minim, karena sifatnya masih perburuan belum di budidayakan secara baik," ucapnya.
Padahal, lanjutnya, komoditi ini memiliki harga jual yang tinggi dan memiliki pasar ekspor yang sangat besar.
Kerang abalon memiliki peluang pasar di Eropa, Jerman, Singapura dan Hongkong, namun hingga kini jumlah kerang abalon yang dikirim ke negara tersebut masih sangat minim, padahal permintaan cukup tinggi.
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali yang membuat pembenihan Abalon di Sulsel mengaku komoditas kerang lunak ini cukup potensial dikembangkan di perairan karang Sulsel.
"Hasil penelitian mereka menemukan sumber makanan abalon yakni rumput laut cukup tersedia di sini," ucapnya.
Peneliti Budidaya Kerang Abalon Sulsel, Ir Hadi Jamaluddin mengatakan, banyaknya peminat kerang abalon karena komoditas ini memiliki kandungan protein yang tinggi dengan kadar lemak rendah.
"Kandungan gizi itulah yang membedakan kerang abalon dengan jenis kerang lainnya, sehingga komoditas ini diminati di pasar mancanegara," ujarnya.
Dosen Universitas 45 Makassar ini menjelaskan lokasi budidaya kerang abalon cukup potensial untuk dikembangkan di daerah Sulsel yang memiliki garis pantai yang cukup panjang seperti Kabupaten Takalar, Jeneponto, Sinjai, Bone dan Barru.
Selain melaut, lanjutnya, budidaya kerang jenis ini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir, jika pemerintah daerah memfasilitasi masyarakat setempat mengembangkan produk komoditas ekspor tersebut. (T.KR-HK/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
