
Bencana Ekologis Rawan Terjadi di Sulsel

Makassar (ANTARA News) - Bencana ekologis rawan terjadi di Sulawesi Selatan akibat rusaknya ekosistem yang umumnya terjadi di wilayah pegunungan dan bagian hulu sungai.
"Sulsel memiliki potensi bencana ekologis dengan ciri-ciri, suatu kejadian yang setiap tahun bisa terjadi, misalnya banjir bandang dan longsor," kata Direktur Eksekutif Jurnal Celebes Makassar Mustam Arif di Makassar, Selasa.
Dia mengatakan, bencana ekologis itu sebenarnya dapat diprediksi, karena memiliki alur waktu, misalnya terjadi pada musim hujan.
Karena itu, lanjut dia, pencegahannya dapat dilakukan dengan cara memperbaiki ekosistem di sekitar lokasi yang rawan bencana.
"Selain itu, memberikan sosialisasi tentang penanganan bencana secara dini misalnya mengaktifkan informasi siaga bencana dan menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam hal antisipasi bencana," katanya.
Menurut dia, salah satu lokasi yang perlu diantisipasi adalah waduk Sungai Jeneberang atau DAM Bili-Bili yang merupakan lokasi penampungan air dari hulu Sungai Jeneberang yang ekosistemnya sudah tidak mendukung lagi.
Hal itu diperparah dengan aktivitas pertanian di bagian hulu sungai itu, sehingga dapat memicu terjadinya erosi dan sedimen di waduk yang dirancang bertahan hingga 50 tahun. Namun berdasarkan hasil riset Unhas, waduk tersebut hanya mampu bertahan sekitar 10 tahun.
Lebih jauh dia mengatakan, pada musim hujan sedimen akan bertambah dan membuat daya tampung waduk juga berkurang.
"Apabila hujan terus-menerus, ini dapat menjadi ancaman bagi masyarakat di sekitarnya, khususnya di Kabupaten Gowa dan Kota Makassar yang berada di bagian bawah waduk," katanya.
Berkaitan dengan hal tersebut, dia berharap agar pihak terkait dapat mengantisipasi terjadinya bencana ekologis itu. Termasuk mengaktifikan siaga bencana di daerah yang menjadi titik rawan bencana banjir dan longsor seperti di lereng Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulsel.(T.S036/S016)
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
