
Kedatangan Obama harus Jadi Momentum Pemberantasan Terorisme

Makassar (ANTARA News) - Pakar Hukum Internasional Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Dr Aswanto menilai bahwa kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama harus menjadi momentum pemberantasan terorisme di Indonesia.
"Selama ini, hubungan diplomasi antara Amerika Serikat dan Indonesia sangat dekat, khususnya dalam bidang pertahanan dan keamanan yang salah satunya adalah pemberantasan terorisme," ungkapnya, di Makassar, Selasa.
Hal ini, katanya, terlihat dari bantuan militer dari Amerika Serikat bagi Indonesia dalam rangka memberantas terorisme.
Karena itulah, menurut dia, agenda perbincangan Obama di Indonesia tentunya juga tidak lepas dari bidang pertahanan dan keamanan, selain beberapa bidang yang lain.
"Harus diakui, bahwa di mata dunia, Indonesia masih cukup terkenal dengan negara yang menjadi sarang teroris," ucapnya.
Hal itu jugalah, lanjutnya, yang mempengaruhi jadwal keberadaan Obama di Indonesia yang tidak selama dengan keberadaanya di Negara India.
"Dari segi keamanan, jelas hal ini menjadi suatu pertimbangan bagi Obama untuk berada di Indonesia, di mana Obama kemungkinan masih menilai pemberantasan terorisme di Indonesia belum begitu maksimal," ujarnya.
Inilah, kata dia, yang secara tidak langsung menjadi kritik, sekaligus masukan bagi pemerintah Indonesia untuk semakin meningkatkan upaya pemberantasan terorisme.
Dengan begitu, citra Indonesia di mata dunia tidak lagi dipandang sebagai sarang teroris.
Selain itu, ia juga menilai bahwa kedatangan Obama di Indonesia akan semakin mempererat hubungan diplomasi, terlepas dari hubungan emosional yang dimiliki Obama karena sempat menghabiskan masa kecilnya di Indonesia.
"Kedatangan Obama pasti akan membawa dampak positif bagi hubungan bilateral antara Amerika Serikat dengan Indonesia, baik dalam hal ekonomi, politik, sosial dan sebagainya," tandasnya. (T.pso-103/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
