Logo Header Antaranews Makassar

Dinkes Bantaeng Pacu Program Kesehatan Berbasis Masyarakat

Selasa, 16 November 2010 03:31 WIB
Image Print

Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, terus memacu program kesehatan berbasis masyarakat.

Program yang sejalan dengan program Departemen Kesehatan dan Pemda Kabupaten Bantaeng tersebut akan diwarnai pelayanan rumah sakit dengan fasilitas moderen yang pembangunannya dimulai 2011.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng dr Hj Takudaeng, MKes Pada syukuran peringatan Hari Kesehatan ke-46 yang ditandai upacara di halaman Kantor Bupati Bantaeng, Senin, mengatakan, pelayanan moderen dan memadai dengan menghadirkan rumah sakit bertaraf internasional merupakan komitmen untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat.

Kadiskes bersama Dirut RSUD Prof dr Anwar Makkatutu, dr HM Syafruddin Nurdin dan Kepala Puskesmas Kota Bantaeng drg Ulil Amri mengatakan, untuk mengatasi persoalan kesehatan di daerah ini, pihaknya juga sudah menjalin kerjasama dengan PT Askes.

Melalui kerjasama tersebut, memberi prioritas pelayanan berbasis dokter keluarga. Ia mengakui, tahap awal program tersebut hanya diberlakukan terhadap pegawai negeri sipil (PNS) yang berdomisili di Kecamatan Bantaeng dan Bissappu.

Namun, ke depan, layanan dokter keluarga itu diharapkan dilakukan kepada seluruh lapisan masyarakat. Layanan dokter keluarga itu sendiri dapat dilakukan melalui Puskesmas atau ke dokter praktek yang sudah ditunjuk.

Para dokter tersebut juga bisa melakukan pelayanan ke rumah pasien, tandasnya. Tentang pelayanan kesehatan dasar terhadap ibu hamil dan bayi, ia meminta partisipasi aktif masyarakat untuk menekan angka kematian bayi di daerah berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini.

Partisipasi yang dibutuhkan berupa kepekaan dan perhatian terhadap kondisi ibu yang sedang mengandung. "Jangan nanti kondisinya kritis baru diantar ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit," tambahnya.

Dia mengatakan, kasus kematian bayi hingga November 2010 mencapai sembilan orang. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Masih tingginya angka kematian bayi itu disebabkan prilaku masyarakat yang masih kurang memahami pemanfaatan fasilitas kesehatan yang tersebar di kecamatan-kecamatan.

"Biasanya, mereka membawa anaknya, atau ibu yang mengandung sudah dalam kondisi kritis denga HB rendah. Dalam kondisi seperti itu, tim medis akan kesulitan melakukan bantuan," ucapnya.

Dengan kepedulian yang tinggi, ia berharap tidak ada lagi kematian ibu dan bayi, sekaligus menyukseskan program MDG?s dengan mengoptimalisasi pelayanan dasar.

Ini juga didukung organisasi profesi yang ada di daerah ini seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan, Ikatan Perawat dan Ahli Kesehatan Masyarakat. (T.pso-102/F003)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026