
Sulsel Belum Miliki Sistem Sanitasi Terpusat

Makassar (ANTARA News) - Sulawesi Selatan belum memiliki sistem sanitasi terpusat, sehingga menjadi tantangan besar bagi Pemprov Sulsel dalam menudukung program kesehatan.
"Ini jadi tantangan keras bagi Pemprov dalam membuat sistem sanitasi terpusat, karena akan menunjang program kesehatan yang menjadi salah satu dari program unggulan Gubernur Sulsel," kata pengamat sosial dari Universitas Muslim Indonesia H Hatita di Makassar, Selasa.
Pemprov Sulsel yang dinakhodai Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo telah berupaya mendorong pelayanan sistem sanitasi melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode 2008 - 2013, namun belum tercapai optimal padahal saat ini sudah 2012.
"Artinya, sisa setahun lebih sistem sanitasi melalui RPJMD itu harus terwujud," katanya.
Sementara itu, Koordinator Kampanye Publik dan Media dari USAID-IUWASH Musfarayani di Makassar mengatakan, akses sanitasi yang layak untuk Sulsel baru mencapai 60 persen, termasuk pembuangan air tinja.
Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 dilansir bahwa masih ada 40 persen dari sekitar delapan juta masyarakat Sulsel yang belum terlayani sistem sanitasi yang baik.
Akibatnya, lanjut dia, sekitar 40 persen masyarakat Sulsel masih dominan membuang limbah kotorannya di tanah. Kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan, karena akan mempengaruhi lingkungan dan berdampak pada kesehatan masyarakat.
Menyikapi kondisi tersebut Hatita mengimbau agar gubernur Sulsel dan jajarannya serius menyediakan sistem sanitasi terpusat.
Salah satu upaya itu dengan menyediakan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di Sulsel, karena yang baru memiliki sarana itu baru Pemkot Parepare dan Kota Makassar yang memiliki tangki septik komunal dengan sistem perpipaan untuk 200 - 300 unit rumah. (T.S036/E001)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
