
Sulbar Butuh Rp300 Miliar Bangun Pabrik Pupuk

Mamuju (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat membutuhkan anggaran sekitar Rp300 miliar untuk membangun pabrik pupuk.
Kepala Biro Pemerintah Provinsi Sulbar, Abdul Rasyid di Mamuju, Rabu, mengatakan, untuk mewujudkan pembangunan pabrik pupuk di Sulbar maka anggaran yang dibutuhkan pemerintah sekitar Rp300 miliar.
Ia mengatakan, karena proyek tersebut membutuhkan anggaran besar maka program itu sudah diusulkan masuk dalam program program Master Plan Perencanaan Pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI) di wilayah koridor sulawesi.
"Program itu telah disetujui pemerintah pusat masuk dalam program MP3EI bersama dengan 10 proyek megaraksasa lainnya yang juga diusulkan pemerintah Sulbar masuk dalam program MP3I," katanya.
Menurut dia, proyek di Sulbar yang masuk dalam program MP3I antara lain proyek pabrik pengolahan kakao dan pabrik industri kakao dan pabrik pengolahan kakao menjadi butter dan powder.
Selain itu, kata dia, proyek lainnya adalah pengembangan industri sawit, pembangunan industri pelet kayu, pabrik industri pupuk, pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kabupaten Majene, budi daya usaha tani Sulbar, pengembangan benih jagung padi dan kedelai serta industri minyak nabati.
Gubernur Anwar Adnan Saleh, sebelumnya mengatakan, pabrik pupuk perlu dibangun di Sulbar karena Sulbar merupakan daerah sentra produksi beras di Sulawesi sehingga pupuk harus terus tersedia bagi petani untuk meningkatkan produksi pertanian dengan membangun pabrik.
Menurut dia, apabila pabrik pupuk seperti PT Pupuk Kaltim dibangun di Sulbar maka produksi padi petani yang mencapai 368 ribu ton per tahun dengan luas lahan sekitar 67 ribu hektare, akan dapat meningkat dan memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah.
"Petani di Sulbar tidak lagi kesulitan pupuk kalau PT Pupuk Kaltim bersedia membangun pabriknya di Majene, dan akan berpengaruh besar terhadap peningkatan produksinya," katanya. (T.KR-MFH/S023)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
