
GP Ansor dan PITI Sulsel Syukuran Imlek

"Zikir dan doa yang digelar oleh GP Ansor dan PITI Sulsel menyambut datangnya Tahun Baru Cina merupakan hal yang positif karena keragaman dan toleransi dibutuhkan di negara ini sebagai bangsa yang majemuk," ujar Wali Kota Makssar Ilham Arief Sirajudd
Makassar (ANTARA Sulsel) - Ormas Gerakan Pemuda Ansor, Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan bersama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sulsel melakukan zikir dan doa di Masjid Terapung Amirul Mukminin dalam rangka syukuran Tahun Baru China/Imlek.
"Zikir dan doa yang digelar oleh GP Ansor dan PITI Sulsel menyambut datangnya Tahun Baru Cina merupakan hal yang positif karena keragaman dan toleransi dibutuhkan di negara ini sebagai bangsa yang majemuk," ujar Wali Kota Makssar Ilham Arief Sirajuddin di Makassar, Jumat.
Wali kota yang juga ikut dalam zikir dan doa itu menyampikan apresiasinya yang mendalam pada pengurus GP Ansor atas kegiatan zikir dan doanya untuk bangsa dalam rangka syukuran tahun baru Imlek.
Menurutnya, kegiatan yang dilaksanakan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) GP Ansor Sulsel bekerja sama dengan persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sulsel ini merupakan berkah tersendiri bagi kota yang dijuluki Anging Mammiri ini.
"Ini pertanda tidak adalagi sekat-sekat antara satu kelompok dengan lainnya dan merupakan berkah tersendiri bagi kami karena hal seperti ini tentu akan membawa ketenteraman di antara kita semua," harapnya.
Terkadang, kata Ilham, ketika melihat sisi minoritas suatu kaum pihak mayoritas biasanya tidak memberi ruang kepada mereka. Padahal menurutnya, sekecil apapun jumlah warga Tionghoa adalah merupakan bagian dari warga Makassar juga yang berhak mendapat pelayanan, ruang dan kesempatan yang sama.
Ilham berkali-kali berterima kasih kepada Ketua Wilayah Ansor karena baginya, kegiatan ini juga merupakan wujud dari cita-cita besar dirinya sejak dilantik menjadi wali kota sembilan tahun lalu untuk menjadikan Makassar sebagai rumah besar bagi warganya.
"Saya teringat saat dilantik sembilan tahun lalu. Saya ingin membangun rumah besar di Makassar yang tidak ada lagi sekat-sekat di dalamnya. Kalau ingin menetap di Makassar maka jadilah orang Makassar," katanya.
Jadi saya katakan, lanjut dia, bahwa di Makassar ini tidak ada lagi orang Thionghoa, Orang Tator, Orang Bugis, dan sebagainya tapi yang ada adalah orang Makassar suku Thionghoa, orang Makassar suku Tator, atau pun orang Makassar suku Bugis.
Berlandaskan dengan pemikiran seperti inilah menurut Wali Kota Makassar dua periode itu, yang menjadi spirit dalam membangun Kota Makassar hingga dua periode kepemimpinannya.
Selain zikir dan doa, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pelepasan lampion dan tari barongsai sebagai simbol penyatuan dua identitas berbeda dalam masyarakat namun tetap satu dalam menjalin kebersamaan. T Susilo
Pewarta : Oleh Muh Hasanuddin
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
