
Pengamat: Masyarakat Lebih Apriori Hadapi Pemilu Legislatif

"Karena itu, sinyalemen itu harus dapat dicermati dan disikapi oleh caleg agar dapat lebih optimal sebagai wakil rakyat ketika terpilih nanti," katanya.
Makassar (ANTARA Sulsel) - Pengamat sosial politik dari Universitas Hasanuddin, Makassar DR Aswar Hasan mengatakan, masyarakat Sulsel lebih apriori pada Pemilu legislatif 2014.
"Hal ini karena angka kemiskinan tidak secara signifikan menurun, sehingga memicu kepercayaan masyarakat menurun pada calon legislatif (caleg) yang akan bertarung pada Pemilu lgislatif 2014," kata Aswar di Makassar, Senin.
Menurut Aswar, meskipun sebagian caleg masih gencar menggunakan "money politics" dalam mendekati konstituennya, namun masyarakat saat ini sudah lebih selektif dalam memilih wakilnya.
Dengan demikian, lanjut dia, ada kecenderungan bersikap apriori meskipun telah menerima fasilitas ataupun pemberian dalam bentuk barang dan uang dari caleg.
"Karena itu, sinyalemen itu harus dapat dicermati dan disikapi oleh caleg agar dapat lebih optimal sebagai wakil rakyat ketika terpilih nanti," katanya.
Sementara itu, Ketua Panwas Kota Makassar Amir Ilyas mengakui, menjelang hari H Pemilu legislatif ditemukan sejumlah kasus pelanggaran di lapangan.
Diantara pelanggaran itu adalah ditemukan 33 karung paket sembako di salah seorang rumah warga di Kecamatan Mariso, Makassar yang diindikasikan bersumber dari caleg Hanura.
Sementara kasus "black campaign" atau kampanye hitam yang melibatkan tiga orang anak di bawah umur yang tertangkap tangan dengan bukti dua dos selebaran berisi penyerangan tokoh nasional partai demokrat dan partai keadilan sejahtera.
Sementara dari keterangan anak tersebut, diketahui hanya diberi uang Rp50 ribu dan orang yang memberikan dua dos Selebaran itu.
"Karena itu, sudah ada tiga partai yang dijelek-jelekan dan kasus ini akan ditelusuri lebih jauh," katanya.
Sedang khusus ketiga anak itu, lanjut dia, sudah dibebaskan setelah ada jaminan dari masing-masing orang tuanya. Pertimbangan lainnya adalah karena ketiga anak itu masih bersekolah. ES Syafei
Pewarta : Suriani Mappong
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
