
Penambang Emas Tradisional Bombana Pakai Mercuri
Senin, 16 Juni 2014 15:07 WIB

"Sekarang hampir tidak ada lagi penambang emas yang tidak pakai merkuri. Karena hasilnya tidak akan memadai kalau tidak pakai merkuri," kata Buyung, penambang emas tradisional Bombana di Kendari, Senin.Kendari (ANTARA Sulsel) - Para penambang emas tradisional di kawasan pertambangan emas di Kecamatan Rarowatu, Rarowatu Utara dan Lantari Jaya Kabupaten Bombana, Sultra mengaku juga menggunakan merkuri atau air raksa (Hg) yang berbahaya bagi lingkungan dan mahluk hidup.
"Sekarang hampir tidak ada lagi penambang emas yang tidak pakai merkuri. Karena hasilnya tidak akan memadai kalau tidak pakai merkuri," kata Buyung, penambang emas tradisional Bombana di Kendari, Senin.
Sebuah perusahaan penambangan emas di Bombana, PT Sultra Utama Sultra (SUN) disinyalir menggunakan unsur berbahaya merkuri dalam mengolah tambang emas di sana. Tim evaluasi tambang Pemda Bombana yang turun mengambil sampel untuk diteliti, menemukan bahwa kadar merkuri di area pengolahan PT SUN melampaui ambang batas minimal. Bahkan di sumur penduduk, kadar merkuri ditemukan 0,0263 mg/l jauh melampaui batas kadar minimal, 0,001 mg/l.
Puluhan ribu penambang emas tradisional kini bekerja di sejumlah area tambang Bombana. Mereka bukan saja penduduk sekitar, tetapi datang dari berbagai wilayah di Sultra bahkan dari sejumlah provinsi di tanah air, seperti dari Sulawesi Selatan. Mereka ada yang bekerja di bawah naungan perusahaan pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) atau bekerja pada lahan-lahan milik penduduk Bombana di luar kawasan IUP.
Pemgolahan emas di Bombana sudah semi modern. Bahan baku tanah yang mengandung emas di kedalaman tertentu digali dengan menggunakan alat berat. Setelah ditemukan bahwa bahan tersebut mengandung emas, kemudian disemprot air dengan mesin penyemprot. Hasil semprotannya, lalu dihisap dengan pipa paralon naik ke atas lalu dimasukan ke semacam mesin pengolah yang didalamnya sudah ada merkurinya. Hasilnya akhirnya, emas akan bercampur dengan merkuri dalam bentuk lempengan.
"Jadi hasilnya bukan lagi emas butiran seperti pengolahan dulu, tetapi sudah dalam bentuk lempengan. Lempengan berwarna abu-abu kehitaman ini lalu dipanasi sehingga warnanya menjadi kuning," kata Buyung.
Gufran, penambang emas tradisional lainnya mengatakan, merkuri di jual bebas di Bombana atau di Kendari dengan harga sekitar Rp20 juta/kg. Unsur logam cair berwarna kekuning-kuningan ini, biasa di jual oleh pengrajin emas di Kendari atau ada yang memang secara khusus memperdagangkannya di Bombana.
"Bisa dibeli eceran misalnya 100 gram. Kalau saya beli 1 kg terlalu banyak, bisa dipakai sampai satu tahun. kalau eceran kan murah dan pemakainnya juga bisa dua atau tiga bulan saja," kata Gufran.
Unsur merkuri merupakan zat yang cukup berbahaya bagi mahluk hidup, karena itu dianjurkan agar pemakaiannya hati-hati dan dalam batasan tertentu. Merkuri berbahaya bagi kulit manusia, bahkan jika masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan gangguan berbagai penyakit seperti paru-paru, ginjal dan liver. Y. Alfrin
Pewarta : Azis Senong
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
