
Anak binaan di LPKA Maros hafal 7 Juz Al Quran, Wagub terharu

Makassar (ANTARA) - Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mengakui terharu terhadap anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Maros, Sulsel karena ada yang mampu menghafal 7 Juz Al Quran.
“Saya terkesan dengan persembahan anak-anak kita. Bahkan ada yang hafal tujuh juz Al Quran. Ini membuktikan pembinaan berjalan dan potensi mereka tetap tumbuh,” tutur Fatmawati Rusdi saat kunjungan ke LPKA tersebut dalam rangkaian memperingati Hari Anak Nasional (HAN), Sabtu.
Saat ini, LPKA Maros membina 59 orang anak berusia 15–18 tahun, dengan rincian 33 kasus perlindungan anak, 18 pidana umum, 7 narkotika, serta masing-masing satu kasus pelanggaran UU Kesehatan dan kejahatan mata uang.
Sebagian dari mereka masih mengikuti pendidikan secara daring dan mengejar paket A, B, dan C.
Ia menegaskan kehadirannya di tempat itu sebagai bukti nyata komitmen pemerintah untuk tidak meninggalkan satu pun generasi muda, termasuk mereka yang sedang menjalani pembinaan agar dapat kembali ke masyarakat dengan lebih siap.
“Alhamdulillah, saya bisa hadir di tengah anak-anakku semua. Ini adalah bentuk komitmen dan kepedulian kami. Pemerintah tidak boleh membiarkan siapa pun tertinggal, apalagi generasi muda kita yang sedang dibina untuk kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Wagub Sulsel dalam kesempatan ini sekaligus mengajak anak-anak binaan untuk menatap masa depan dengan semangat baru, tanpa terbelenggu oleh masa lalu.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemprov Sulsel menyerahkan sejumlah bantuan untuk mendukung kegiatan keterampilan dan olahraga di LPKA. Bantuan tersebut meliputi satu unit mesin cuci, satu unit mesin jahit, satu unit laptop, serta peralatan olahraga seperti raket, bola voli, dan bola kaki.
Untuk program pembinaan di LPKA Maros mencakup pendidikan kepribadian bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al Hidayah, konseling, pramuka, hingga pelatihan keterampilan seperti budidaya ikan, hidroponik, pembuatan sabun, boneka, manik-manik, dan bingkai kupu-kupu.
Namun demikian, LPKA masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan tenaga pengajar, pelatih keterampilan, dan minimnya dukungan dari keluarga anak binaan.
“Kami berharap, anak-anak kita bisa keluar dari sini dengan harapan baru dan kemampuan yang mereka butuhkan untuk membangun masa depan. Tugas kita semua adalah memastikan mereka punya jalan,” kata Fatmawati.
Pewarta : Abdul Kadir
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
