Makassar (ANTARA) - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Dr Rendra Anggoro, menilai lonjakan utang pinjaman online (pinjo)l salah satunya diakibatkan lemahnya literasi tentang risiko.
Rendra dalam keterangannya di Makassar, Sabtu mengatakan, banyak peminjam terjebak pola mengambil keputusan jangka pendek.
“Individu sering mengabaikan risiko beban bunga tinggi di masa depan demi memenuhi kebutuhan instan saat ini,” katanya.
Pada level praktik, Rendra menilai kesalahan yang kerap terjadi adalah peminjam hanya terpaku pada bunga harian yang terlihat kecil, tanpa menghitung akumulasi biaya admin, provisi di muka, dan total beban efektif.
Di saat yang sama, kata dia, banyak yang menggunakan pinjaman jangka pendek untuk kebutuhan rutin, sehingga membuka jalan pada praktik memperpanjang utang dengan utang baru.
“Kesalahan paling fatal adalah optimisme bias. Peminjam mengabaikan rasio cicilan maksimal terhadap pendapatan, lalu terjadi mismatch tenor. Akhirnya, orang membayar bunga dengan utang baru dan itu menghancurkan ketahanan finansial,” ujar Wakil Dekan III FEB Unismuh Makassar itu.
Menurut dia, persoalan diperberat oleh cara kerja platform digital yang agresif mendorong penawaran kepada pengguna.
Algoritma dan kemudahan proses pengajuan disebut sering mengeksploitasi rendahnya literasi risiko, sehingga pinjaman yang tampak ringan di awal berubah menjadi beban yang menumpuk.
Lebih jauh dijelaskan, utang pinjol tidak semata mencerminkan kebutuhan modal produktif, melainkan pergeseran fungsi pinjaman menjadi penyangga konsumsi harian. Ia mengaitkannya dengan stagnasi upah riil dan biaya hidup yang kian tinggi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total outstanding pembiayaan pinjaman daring (pindar) atau pinjol tembus Rp94,85 triliun per November 2025.
Angka tersebut tumbuh 25,45 persen dibanding tahun lalu yang sebesar Rp90,99 triliun. Di tengah kemudahan akses pinjaman melalui gawai, peningkatan utang tersebut menjadi sinyal kerentanan ekonomi rumah tangga yang perlu diwaspadai.
“Lonjakan utang pinjol hingga Rp94,85 triliun merupakan alarm kerentanan ekonomi rumah tangga. Pergeseran fungsi pinjaman dari modal produktif menjadi penyangga konsumsi harian membuat banyak orang masuk dalam siklus utang gali lubang tutup lubang,” kata Rendra.

