
Pertanian modern fondasi pembangunan ekonomi di Sulbar

Mamuju (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka menyatakan pertanian modern menjadi fondasi pembangunan ekonomi di daerah itu, yang akan diperkuat dengan hilirisasi industri, kawasan ekonomi khusus dan UMKM.
"Sebanyak 46 persen PDRB Sulbar ditopang sektor pertanian. Jadi, pertanian harus menjadi fondasi ekonomi daerah, diperkuat dengan hilirisasi industri, kawasan ekonomi khusus dan UMKM sebagai instrumen inklusi ekonomi," kata Suhardi Duka di Mamuju, Rabu.
Suhardi Duka menyampaikan itu pada rapat kerja daerah (Rakerda) lingkup Pemprov Sulbar yang dihadiri para bupati, wakil bupati, sekretaris daerah serta kepala OPD dari enam kabupaten di Sulbar.
Pada kegiatan itu, Gubernur memaparkan analisis komprehensif tentang faktor-faktor yang mendorong kemajuan ekonomi China yang kini menjadi kekuatan global, dan bahkan dianggap sebagai ancaman ekonomi dunia, termasuk oleh Amerika Serikat.
"Padahal, pada 1978, China tercatat lebih miskin dibandingkan Indonesia," katanya.
Suhardi Duka membandingkan model pembangunan ekonomi Barat dan China.
Menurutnya, negara-negara Barat menganut ekonomi pasar murni, di mana peran pemerintah relatif kecil, sementara sektor moneter, fiskal dan korporasi sangat dominan.
"Amerika Serikat kuat karena moneternya. Hampir seluruh dunia memegang dolar, kalau kekurangan, mereka tinggal mencetak uang. Tapi konsekuensinya, utang mereka juga sangat besar," jelasnya.
Berbeda dengan negara-negara Barat, China kata Suhardi Duka mengembangkan model ekonomi hibrida, di mana pemerintah memegang peran sentral melalui kebijakan industri yang kuat, pengelolaan BUMN serta intervensi fiskal dan moneter yang terarah.
Pemerintah daerah lanjutnya, diberi ruang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meski sistem politik tetap tersentralisasi.
Ia kemudian mengutip filosofi Deng Xiaoping sejak 1978, yakni tidak masalah kucing hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.
Prinsip tersebut menurut Suhardi Duka mencerminkan pragmatisme China dalam memilih kebijakan ekonomi, baik sosialisme maupun kapitalisme, selama mampu mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan rakyat.
Ia juga menyoroti karakter masyarakat China yang mengedepankan pengambilan keputusan kolektif, perencanaan jangka panjang dan kolaborasi dalam dunia usaha.
Budaya tersebut dinilai menjadi fondasi kuat ketahanan ekonomi dan konsistensi pembangunan.
"China membangun kolaborasi erat antara pelaku usaha dan pemerintah daerah. Sinkronisasi kebijakan dan aksi lapangan berjalan sangat cepat, bahkan aturan yang menghambat investasi bisa diubah dalam semalam," jelasnya.
Selain itu tambahnya, tingkat budaya menabung masyarakat China yang mencapai sekitar 30 persen dari pendapatan juga menjadi faktor penting.
"Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat yang sekitar lima persen, maupun Indonesia yang berkisar 2,5 persen," katanya.
Di sektor pertanian, Suhardi Duka menegaskan bahwa China mampu melampaui Indonesia karena alokasi besar pada teknologi dan permodalan.
"Reformasi pertanian yang terencana membuat sektor ini tumbuh pesat dan menghasilkan produk berdaya saing global," ujar Suhardi Duka.
Berangkat dari pembelajaran tersebut, Gubernur mengajak seluruh pemangku kepentingan di Sulbar menentukan arah pembangunan daerah secara tegas.
"Sulbar punya dua potensi besar, yakni pertanian dan pertambangan. Tapi kalau kita memilih pertambangan, sumber daya akan terkuras dan risiko lingkungan besar. Kalau kita memilih pertanian, itu berpihak pada rakyat," tegasnya.
Namun, Gubernur menekankan bahwa pertanian yang dipilih harus pertanian modern, bukan pertanian tradisional yang justru memelihara kemiskinan.
Strategi yang ditawarkan, meliputi peningkatan indeks pertanaman, penguatan pola inti-plasma, hilirisasi industri, pengembangan UMKM modern serta penciptaan rantai perdagangan dan jasa yang terintegrasi.
Ia menegaskan, transformasi pertanian menuju model modern adalah kunci untuk meningkatkan PDRB, menurunkan kemiskinan, dan mewujudkan pertumbuhan ekonomi Sulbar yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Pewarta : Amirullah
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
