
Nelayan Mamuju Tidak Melaut Karena Pembeli Kurang

"Meskipun tangkapan ikan nelayan melimpah, namun sia-sia, karena tidak laku dijual, justru nelayan merugi karena pembeli tidak ada...
Mamuju (ANTARA Sulbar) - Sejumlah nelayan di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, enggan melaut karena pembeli ikan berkurang semenjak terjadinya peristiwa penemuan jenazah Air Asia di Perairan Kabupaten Majene.
Pemantauan di Mamuju, Rabu, puluhan kapal nelayan Mamuju tangkap diparkir di bantaran Sungai Mamuju, karena nelayan memilih tidak melaut sejak sepekan terakhir.
Syarif mengatakan, masyarakat nelayan yang berada di pesisir Pantai Mamuju akhirnya tidak melaut karena masyarakat Mamuju enggan makan ikan laut.
Ia mengatakan, ikan tangkapan nelayan tidak laku dipasaran ketika dijual sejak sepekan terakhir sejak peristiwa penemuan jenazah Air Asia di perairan Kabupaten Majene.
"Meskipun tangkapan ikan nelayan melimpah, namun sia-sia, karena tidak laku dijual, justru nelayan merugi karena pembeli tidak ada dan ikan nelayan hanya dibuang kembali kelaut karena sudah busuk," katanya.
Ia mengatakan, sejak penemuan jenazah Air Asia sepekan yang lalu, masyarakat di Mamuju enggan membeli ikan dan nelayan mencoba menangkap ikan namun tidak dibeli masyarakat.
"Nelayan selama sehari kami biasanya untung Rp500 ribu untuk setiap kapal mereka, karena para pengecer ikan bersepeda motor yang disebut warga setempat `Pa`gandeng` membeli ikan nelayan, namun kini pa`gandeng berhenti menjual ikan karena takut dagangannya tidak laku," katanya.
Menurut dia, pa`gandeng yang biasanya datang dengan jumlah ratusan orang perhari, tidak datang lagi membeli ikan nelayan dipesisir pantai yang mencapai ribuan ton, karena takut dagangannya tidak laku.
"Akhirnya nelayan juga tidak mau melaut karena pengecer tidak mau membeli ikannya, yang dijual pedagang di pasar ikan di Mamuju, hanyalah ikan bandeng atau ikan air payau yang digemari masyarakat," katanya. FC Kuen
Pewarta : M Faisal Hanapi
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
