
Gubernur Sulbar dorong Festival Bulan Mamase masuk KEN

Mamuju (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka mendorong Pemerintah Kabupaten Mamasa segera mendaftarkan Festival Bulan Mamase atau Bulan Kasih Sayang masuk Kharisma Event Nusantara (KEN), program strategis Kementerian Pariwisata dan mendukung anggaran pelaksanaannya.
"Segera daftar ke KEN, nanti kita bantu. Tahun depan Pemprov Sulbar juga akan mendukung anggarannya," kata Suhardi Duka di Kabupaten Mamasa, Senin.
Sdbdlumnya, Gubernur mengaku terkesan dengan pembukaan festival yang diramaikan parade budaya dari 17 kecamatan di Mamasa dengan masing-masing menampilkan kekayaan tradisi dan identitas daerah.
Menurutnya, budaya bukan sekedar warisan tetapi juga cerminan jati diri.
"Siapa yang bangga dengan budayanya, berarti bangga dengan dirinya. Siapa yang mencintai budayanya, berarti mencintai daerahnya," ujarnya.
Ia menilai, masyarakat Mamasa hingga kini masih kuat menjaga identitas budaya, termasuk dalam penggunaan pakaian tradisional seperti Sambu.
“Di tempat lain orang sudah pakai jas, tapi di Mamasa orang masih bangga pakai pakaian tradisionalnya,” katanya.
Gubernur mendorong agar tenun Sambu tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga bisa dikembangkan agar diminati lebih luas.
Ia mencontohkan, batik yang awalnya identik dengan daerah tertentu, namun kini menjadi identitas nasional dan bernilai ekonomi tinggi.
"Kita perlu desain supaya bukan hanya orang Mamasa yang suka, tapi seluruh Indonesia juga tertarik memakai Sambu," ujarnya.
Selain budaya, Suhardi Duka juga menekankan pentingnya mengaitkan sektor ekonomi, khususnya UMKM dan produk lokal.
Menurutnya, tidak semua budaya harus disimpan, ada yang bisa ditampilkan dan bahkan memiliki nilai jual, seperti tarian tradisional.
"Kalau ditampilkan di luar daerah, itu bisa bernilai ekonomi. Budaya bisa tetap dijaga, tapi juga bisa memberi manfaat," kata Suhardi Duka.
Ia juga mendorong pengembangan hilirisasi produk lokal Mamasa, mulai dari kopi, markisa hingga nenas.
"Kopi Mamasa jangan dijual mentah, tetapi harus sudah dalam bentuk bubuk kemudian dikemas dengan baik dan punya merek," katanya.
Ia bahkan melempar gagasan branding Kopi Gubernur untuk kopi robusta khas Mamasa, lengkap dengan kemasan menarik agar memiliki daya saing.
Suhardi Duka juga menyoroti potensi nenas yang produksinya meningkat namun harganya masih rendah.
Menurutnya, pengolahan menjadi produk turunan seperti selai bisa meningkatkan nilai jual secara signifikan.
"Kalau diolah, nilai tambahnya bisa berkali lipat. Ini yang perlu didorong," ujar Suhardi Duka.
Sementara, Bupati Mamasa Bupati Mamasa Welem Sambolangi menyampaikan bahwa pelaksanaan Bulan Mamase telah menjadi kegiatan tahunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat.
"Tujuan dari festival Bulan Mamase sebagai upaya melestarikan dan menjaga kearifan lokal di Kabupaten Mamasa," kata Welem Sambolangi.
Festival bulan Mamase digelar mulai dari 6-30 April 2026 dengan melibatkan 48 UMKM lokal.
Pelibatan para pelaku usaha itu lanjut Welem Sambolangi sebagai upaya mendorong dan meningkatkan perekonomian rakyat, secara khusus UMKM dan usaha-usaha kecil.
"Festival Bulan Mamase juga dijadikan sebagai momentum silaturahmi dan momentum para diaspora pulang kampung untuk berbagi dan saling menopang secara khusus dalam menggerakkan nilai-nilai kegotong-royongan dalam bingkai keluarga besar sebagai orang-orang Mamasa," jelasnya.
Bupati berharap, festival Bulan Mamase yang mendapat dukungan Gubernur bukan hanya milik orang Mamasa tapi akan menjadi milik Indonesia, bahkan dunia sekalipun.
Pewarta : Amirullah
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
