
Pemkot Makassar fokus mengubah pola kelola sampah di masyarakat

Makassar (ANTARA) - Pemerintah Kota Makassar, Sulawesi Selatan memperkuat komitmen berkolaborasi dalam pembenahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh yang salah satu fokus mengubah pola kelola persampahan di tingkat masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar Helmy Budiman di Makassar, Senin, menegaskan perlunya transformasi sistem pengelolaan sampah, khususnya dengan menghentikan praktik pembuangan terbuka (open dumping).
"Ke depan, kita harus beralih ke sistem sanitary landfill (pembuangan sampah sanitasi), di mana hanya residu yang masuk ke TPA. Pemilahan harus dimulai dari sumber, sehingga volume sampah yang dibuang dapat ditekan secara signifikan," katanya.
Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, Pemerintah Kota Makassar juga sedang merencanakan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berskala besar, termasuk Pembangkit Sampah Energi Listrik (PSEL) di kawasan Tamangapa dengan kapasitas sekitar 1.300 ton per hari.
"Selain itu, pemanfaatan teknologi pengolahan seperti Refuse Derived Fuel (RDF), gasifikasi, dan pirolisis turut didorong untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah," katanya.
Meski demikian, beberapa wilayah menunjukkan capaian positif, salah satunya Kecamatan Tallo yang mampu mereduksi sekitar 50 ton dari total 89 ton sampah per hari melalui integrasi program pengelolaan sampah dan urban farming.
Namun di sebagian wilayah lainnya, masih terdapat persepsi di masyarakat bahwa pembayaran retribusi sampah sudah cukup, tanpa diikuti kewajiban memilah sampah dari sumbernya.
Berdasarkan data, timbulan sampah di Kota Makassar mencapai sekitar 1.034 ton per hari, dengan lebih dari 900 ton di antaranya belum terkelola secara optimal.
Helmy menambahkan sebagai langkah penguatan, Pemerintah Kota Makassar sedang menyiapkan tenaga edukator persampahan yang akan bertugas melakukan sosialisasi dan mendorong perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan.
Ketua Dewan Lingkungan Hidup, Melinda Aksa, menyampaikan bahwa salah satu penguatan yang perlu dilakukan adalah pengembangan bank sampah.
Menurutnya, pemilahan sampah dari sumber atau rumah tangga menjadi kunci utama dalam sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.
"Untuk itu, diperlukan keterlibatan aktif seluruh elemen, mulai dari tingkat RT/RW hingga pemerintah kota. Dari kebutuhan sekitar 300 unit, saat ini baru sekitar 100 bank sampah yang aktif beroperasi," ucapnya.
Pewarta : Muh. Hasanuddin
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
